MENILAI SESEORANG BERDASARKAN PENILAIAN ALLAH

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- :
« إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ »
رواه مسلم

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, beliau berkata: Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda: ((Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk-bentuk kalian dan tidak pula harta-harta kalian akan tetapi Dia melihat kepada hati-hati dan amalan-amalan kalian)). Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam shahihnya.

Faedah-faedah mulia dalam hadits ini diantaranya:

▪Makna hadits: bahwasannya Allah tidak menghukumi dan membalas seseorang berdasarkan bentuk  jasad dan rupa. Tidak pula atas kepemilikan harta-harta yang kosong dari kebaikan. Sebab itu semua tidak mendekatkan seorang hamba kepada-Nya.

👉🏻Tidak lain Allah hanya melihat kepada hati-hati dan amalan-amalan mereka apakah baik atau tidak.

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ﴿١٣﴾
Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian. Q.S. Al-Hujuraat: 13.

▪Bahwa suatu amalan itu teranggap dan bernilai di sisi Allah dengan niat yang ikhlash dan baik bukan dari bentuknya.

👉🏻Sehingga yang dihukumi adalah niat dalam beramal.

Jika niatnya ikhlash maka amalan itu amalan yang shalih.

Jika niat pelaku amalan itu tidak ikhlash karena Allah maka amalannya itu rusak walaupun bentuknya adalah amalan shalih.

▪Hendaknya seseorang tidak berbangga-bangga dengan banyaknya melakukan amalan shalih padahal tidak ikhlash, karena itu tidak bernilai di sisi Allah.

Seseorang yang berinfak dengan nilai yang sedikit disertai ikhlas  itu lebih baik dari seseorang yang berinfak dengan jutaan atau milyaran rupiah namun riya'.

Sebab, yang pertama tercatat sebagai amalan shalih dan memberatkan timbangan amal pelakunya sedangkan yang kedua tidak.

▪Kecantikan itu ada dua: yang zhahir (tampak) dan bathin (tersembunyi).

Kecantikan batin seperti keimanan, ketakwaan, ilmu, akal yang sehat, kedermawanan, akhlak yang mulia. Inilah yang dilihat oleh Allah dan yang dicintai-Nya.

👉🏻Sehingga keindahan batin itu lebih baik dari keindahan zhahir.

▪Keindahan lahiriah seperti harta dan jasmani tidak bernilai dan tidak dilihat oleh Allah kecuali jika digunakan di dalam ketaatan kepada-Nya.

▪Seorang mukmin yang memiliki kecantikan batiniah akan memiliki wibawa dan disenangi manusia sesuai dengan kadar keimanannya. Siapa yang melihatnya akan mencintai dan segan kepadanya walaupun ia berkulit hitam dan tidak tampan atau cantik secara fisik.

Dan ini hal yang kita saksikan di lingkungan kita.

Dan sebaliknya jika seseorang memiliki keindahan lahiriah namun berakhlak jelek, pelaku kemaksiatan, dan hal-hal yang terlarang, maka akan dibenci dan tidak memiliki kewibawaan di hadapan orang mukmin.

▪Jika tempat takwa itu di hati maka tidak ada yang bisa menelaahnya kecuali Allah 'Azza wa Jalla. Orang yang menampakkan ketakwaaan secara zhahirnya maka itu yang kita hukumi. Adapun niatnya maka itu antara dirinya dengan Allah Yang Maha Mengetahui dan Maha Mengawasi segala sesuatu.

▪Sesungguhnya takwa jika telah ada di hati seseorang maka akan tampak buahnya di amalan anggota badannya dengan ia istiqamah dan meninggalkan kemaksiatan.

👉🏻Dan seorang mukmin yang Allah telah menerangi hatinya dengan iman akan tampak cahaya iman di wajahnya dan akan diturunkan rasa cinta dan wibawa di hadapan manusia.

▪Di dalam hadits terkandung itsbat (penetapan) sifat nazhor(melihat) bagi Allah yang sesuai dengan keagungan-Nya, tidak sama dengan cara pandangan makhluk.

▪Jika Allah tidak melihat kepada bentuk jasad dan harta seseorang dalam menilai dan menghukuminya, 👉🏻lalu bagaimana kita mengutamakan seseorang dengan sesuatu yang Allah tidak mengutamakannya dengan hal itu?!

❗Seperti:
mengutamakan orang kaya yang fasik dari orang miskin yang shalih. 

Sehingga yang pantasnya untuk kita melihat dan menilai seseorang berdasarkan apa yang Allah lihat pada seseorang itu yaitu kebaikan amalan-amalan mereka.

📚 Rujukan:
Al-Kabair Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab,
I'anatul Mustafiid Al-Fauzan,
Minhaajus Sunnah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah,
Jami'ul Ulum wal Hikam Ibnu Rajab,
Majmu' Fatawa wa Maqaalat Ibnu Baz,
Al-Fawaaid Ibnul Qayyim,
Raudhatul Muhibbin lbnul Qayyim.

# muhibbukum fillah

Alih bahasa: al Ustadz Abu Yahya al Maidany