BIMBINGAN SYAR'I AGAR HATI SELALU BERSERI


[Kaidah Agung Saat Luput Suatu Nikmat atau Dirundung Musibah]

🎙Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'diy rahimahullah berkata:

"Sepatutnya bagi seseorang yang jiwanya mencitakan:

▪suatu hal yang tidak ada kemampuannya atasnya
▪atau perkara yang tidak mungkin pada dirinya

💦-dan ia merasa sedih karena tidak mampu meraihnya-

selayaknya ia menghibur jiwanya dengan apa yang telah Allah berikan nikmat atasnya, dari apa-apa yang sudah diperoleh, berupa kebaikan ilahi yang belum didapat oleh yang selainnya.

Oleh karenanya, pada saat jiwa Nabi Musa 'alaihissalam mencitakan untuk bisa melihat Allah Ta’ala, dan ia memohon hal itu kepada Allah, lalu Allah mengabarkan padanya bahwa hal itu tidak akan diperolehnya di di dunia dan tidak mungkin, lalu Allah pun menghiburnya dengan apa yang telah ia anugerahkan kepadanya dengan berfirman:

قَالَ يَا مُوسَى إِنِّي اصْطَفَيْتُكَ عَلَى النَّاسِ بِرِسَالاَتِي وَبِكَلاَمِي فَخُذْ مَا آتَيْتُكَ وَكُن مِّنَ الشَّاكِرِينَ ﴿١٤٤﴾

Allah berfirman: "Hai Musa sesungguhnya Aku memilih (melebihkan) kamu dari manusia yang lain (di masamu) untuk membawa risalah-Ku dan untuk berbicara langsung dengan-Ku, sebab itu berpegang teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur". Q.S. Al-A’raaf: 144.

✍🏻 Semisal itu juga Allah telah memperingatkan Rasul-Nya dan hamba-hamba-Nya atas makna yang seperti ini dalam firman-Nya :

أَوْ جَآؤُوكُمْ حَصِرَتْ صُدُورُهُمْ أَن يُقَاتِلُوكُمْ أَوْ يُقَاتِلُواْ قَوْمَهُمْ وَلَوْ شَاء اللّهُ لَسَلَّطَهُمْ عَلَيْكُمْ فَلَقَاتَلُوكُمْ ﴿٩٠﴾

...atau orang-orang yang datang kepada kamu sedang hati mereka merasa keberatan untuk memerangi kamu dan memerangi kaumnya. Kalau Allah menghendaki, tentu Dia memberi kekuasaan kepada mereka terhadap kamu, lalu pastilah mereka memerangimu. Q.S. An-Nisaa’: 90.

🔬Maka sungguh yang menelaah kondisi ini yaitu:

▪bagaimana mereka(musuh Allah) menahan tangan-tangan mereka dari orang-orang mukmin dan mengajak berdamai kaum mukminin,
▪dibandingkan dengan kondisi lain yaitu jika Allah kehendaki niscaya sungguh Dia kuasakan mereka atas kaum mukminin sehingga mereka memerangi kaum mukminin,

👉🏻dengannya terasa ringan perkara ini(atas kaum mukminin), sehingga mereka(musuh Allah) jikapun tidak menolong kaum mukminin (dalam koalisi menghadapi orang-orang musyrik) maka demikian juga mereka tidak menolong musuh kaum mukminin untuk menyerang mereka (orang-orang mukmin).

◾Dan termasuk hal yang menyerupai permasalahan ini, bahwa seorang hamba diperintah untuk melihat kepada yang di bawahnya dalam urusan harta, kedudukan, kesehatan,  dan yang lainnya; tidak melihat kepada yang di atasnya. Sebab yang demikian itu lebih pantas agar ia tidak meremehkan nikmat Allah atasnya.

◾Seperti itu pula apabila ia ditimpa suatu ujian maka :
🤲🏻hendaknya ia memuji Allah bahwa ujian itu tidak lebih besar dari (apa yang telah menimpanya) itu,
🤲🏻dan hendaknya ia bersyukur kepada Allah, jika musibah itu hanya terkait badan atau hartanya, bukan dalam perkara agamanya.

☝🏻Dan orang yang memiliki kondisi seperti ini niscaya ia akan tenang hatinya, tenteram jiwanya, sangat penyabar lagi sangat bersyukur.”

📖 Al-Mawaahib Ar-Rabbaniyyah, As-Sa’diy, hal. 22 – 23.

Alih bahasa: al Ustadz Abu Yahya al Maidany

Posting Komentar