🌴🍃🌾 HAMBA YANG DICINTAI-NYA
Dari Sa'ad bin Abi Waqash radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ يُحِبُّ العَبْدَ التَّقِيَّ، الغَنِيَّ، الخَفِيَّ.

"Sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba yang at-taqiyya, al-ghaniyya dan al-khafiyya." [HR. Muslim, no. 2965]

Pengertian at-taqiyya, yaitu seorang hamba yang bertakwa. Mengerjakan apa yang diperintahkan Allah Subhanahu dan meninggalkan perkara yang dilarang-Nya.

Sedang al-ghaniyya, yaitu seorang hamba yang memiliki kekayaan hati. Tak semata kaya harta dunia. Karenanya, ia tidak tamak dan rakus. Justru, ia rajin berderma, bersedekah dan peduli kepada kaum papa. Ia kaya hati.

Adapun al-Khafiyya, yaitu seorang hamba yang tiada menginginkan popularitas. Tiada pula mencari-cari ketenaran diri. Tiada riya' (pamer, ingin dilhat orang lain). Seorang hamba al-khafiyya ia berupaya menyembunyikan amal saleh yang dikerjakanya.

Ya, Allah, terimalah segenap amal ibadah kami. Kuatkan kami dan mudahkan kami dalam menunaikan ketaatan kepada-Mu.

✍️ al-Ustadz Abul Faruq Ayip Syafruddin حفظه الله
🌴🍃🌾🌴🍃🌾🌴🍃🌾🌴🍃

HAMBA YANG DICINTAI-NYA

MUNGKINKAH INI JUGA PERASAAN TERPENDAM BAPAK KITA?
 _______
Di antara kisah tercetusnya sabda Rasul shalallahu alaihi wasallam mengenai harta kita boleh dimanfaatkan ayah kita adalah kisah yang diriwayatkan Ath Thabaraniy dalam Mu'jamnya sampai pada shahabat Jabir radhiyallahu anhu.

 Beliau radhiyallahu anhu berkisah:

جاء رجل إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال: يا رسول الله! إن أبي أخذ مالي. 

Datang seorang pria kepada Nabi sholallahu alaihi wasallam lalu berkata : "Ya Rasulallah, sungguh bapakku mengambil hartaku."

فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم للرجل: اذهب فأتني بأبيك.
 Maka Rasulullah shalallahu alaihi wasallam pun berkata pada pria itu : " Silakan anda pergi untuk menjemput dan membawa ayah anda kemari."

 فنزل جبريل على النبي صلى الله عليه وسلم فقال: إن الله يقرئك السلام ويقول: إذا جاءك الشيخ فسله عن شيء قاله في نفسه ما سمعته 
أذناه

Maka turunlah malaikat Jibril kepada Nabi shalallahu alaihi wasallam dan berkata : "Sesungguhnya Allah mengirimkan salam pada anda wahai Nabi sekaligus berpesan jika bapak tua itu sudah datang maka tanyailah bapak itu dengan ganjalan hatinya yang belum pernah didengar telinganya sendiri (yakni belum pernah dia ucapkan).

 فلما جاء الشيخ قال له النبي صلى الله عليه وسلم: مازال ابنك يشكوك أنك تأخذ ماله? 
Maka manakala bapak pria tadi sudah dihadirkan, Nabi shalallahu alaihi wasallam pun berkata padanya : "Ada apa gerangan tadi terus menerus putramu mengadukanmu padaku bahwa anda mengambil harta miliknya?"

قال: سله يا رسول الله هل أنفقه إلا على إحدى عماته أو خالاته أو على نفسي? 
Bapak tua itu menjawab : "Tanyailah putraku wahai Rasulullah. Apakah aku mengambil hartanya untuk kuinfaqkan pada salah satu saudariku yakni bibinya , atau saudari ibunya, atau untuk diriku sendiri?

فقال النبي صلى الله عليه وسلم: إيه دعنا من هذا، أخبرني عن شيء قلته في نفسك ما سمعته أذناك

Kemudian Nabi shalallahu alaihi wasallam berkata : " Sudahlah, kita tinggalkan sejenak tentang itu. Kabarkan tentang sesuatu yang hatimu mengeluhkannya, tetapi dua telingamu tidak sempat mendengarnya!"

، قال الشيخ: والله يا رسول الله ما يزال الله يزيدنا بك يقينا، قلتُ في نفسي شيئًا ما سمعته أذناي. قال: قل وأنا أسمع. 

Bapak tua itu menjawab: Demi Allah, wahai Rasul Allah, senantiasa Allah membuat aku beriman kepada anda dan terus bertambah keyakinanku. Aku memang telah memiliki keluhan hati yang tidak pernah kedua telingaku mendengarnya (karena tidak pernah kuucapkan)."

Maka Nabi shalallahu alaihi wasallam berkata : "Maka katakanlah kepadaku, aku akan mendengarkannya."

:قال: قلتُ

Bapak tua itu mengungkapkan keluh kesahnya (dalam beberapa baris syair) :

غذوتك مولودا وعلتك يافعا **** تعل بما أجني عليك وتنهل

Aku yang mengasuhmu saat kelahiranmu
Aku mencukupimu di masa remajamu
Semua hasil lelahku kau reguk sepuas hatimu

إذا ليلة ضافتك بالسقم لم أبت **** لسقمك إلا ساهرا أتململ

Bila di waktu malam hari tertimpa sakit, duhai putraku
maka yang tidak bisa tidur lantaran sakitmu adalah diriku
Aku resah dan gelisah lantaran sedih atas rasa sakitmu

تخاف الردى نفسي عليك وإنها **** لتعلم أن الموت وقت مؤجل

Aku khawatir maut akan menyambar jiwamu
Padahal maut sudah ditentukan ajalnya, aku tahu itu.

كأني أنا المطروق دونك بالذي **** طرقت به دوني فعيناي تهمل

Seakan - akan sakit itu menimpa diriku
dan bukan engkau yang sakit wahai buah hatiku
Saking sedihnya, air mata sudah lelah mengucur dari mataku

فلما بلغت السن والغاية التي **** إليها مدى ما فيك كنت أؤمل
Manakala masa dewasa mulai mendatangimu
dan kamu meraih segenap cita - cita hidupmu.
Cita - cita yang selalu kuharapkan tercapai untukmu.

جعلت جزائي غلظة وفظاظة **** كأنك أنت المنعم المتفضل
 Lalu kudapati balasanku adalah sifat kaku dan kata - kata keras darimu.

Seakan - akan selama ini kamulah yang mencukupiku
Seolah - olah kamu selama ini paripurna memuliakan hidupku.

فليتك إذ لم ترع حق أبوتي **** فعلت كما الجار المجاور يفعل
Seandainya engkau memang sudah tidak peduli pada hak -hakku
sebagai seorang ayah bagimu.

Bersikaplah saja seolah aku tetangga baikmu.
Bersikap baiklah kamu kepada aku seperti sikapmu pada tetanggamu.

قال: فعند ذلك أخذ النبي صلى الله عليه وسلم بتلابيب ابنه وقال: (أنت ومالك لأبيك).

Maka Jabir berkata:

"Manakala mendengar rintihan hati sang bapak, Nabi shalallahu alaihi wasallam mencengkeram kerah baju anak itu lalu berkata : "Engkau dan hartamu adalah milik bapakmu."

__________ *******______

Hadits ini saya baca di mimbar Jum'at pekan kedua yang lalu. Suara saya tercekat dan mata saya memerah tatkala membaca baris syair di atas. Saya terpikir , betapa lalainya saya atas nikmat memiliki ayah yang masih hidup.

Ya Allah, ampuni saya. Beri taufiq saya yang lalai ini untuk berbakti pada ayah- ibu saya.

✍️ al-Ustadz Jarot Sidoarjo حفظه الله

MUNGKINKAH INI JUGA PERASAAN TERPENDAM BAPAK KITA?

MERAIH PAHALA DENGAN BERBICARA
بسم الله الرحمن الجحيم
Kadang kita banyak terlibat dan masuk ke dalam group & forum dakwah di medsos, baik group wa, telegram dan yang lainnya yang memang dibuat sebagai bagian dari musyawarah demi pengembangan dakwah salafiyah.

Tapi tidak sedikit yang ada didalamnya sangat minim keterlibatannya, bahkan ada sebagiannya tidak pernah ada sumbangsih sepatah "kata" sekalipun. Bertahun-tahun di dalam group tidak pernah ada reaksi darinya walau hanya sebatas salam dan tegur sapa kepada saudaranya yang mungkin sudah lama terpisah, yang tidak di temui di dunia nyata.
Entah karena minder merasa tidak pantas berbicara atau karena menganggap diam itu lebih baik daripada berbicara dan sebab lainnya.

*Kadang "diamnya" justru menimbulkan kecurigaan pada sebagian anggota yang lainnya, ada apa dengannya ?*

Memang diam itu lebih baik dari pada berbicara, tapi jika diamnya itu dari ucapan yang tidak bermanfaat, atau ragu apakah akan bermanfaat ataukah tidak ucapannya, terlebih jika sadar ucapannya berdampak negatif serta mengandung dosa. Tapi jika berbicara itu membawa kebaikan, apalagi untuk pendidikan ,  tarbiyah & dakwah ke jalan Allah di forum-forum musyawarah tersebut, maka bicara itu lebih baik di banding diam. Karenanya pilihan diam di sampaikan oleh nabi shalallahu alaihi wasallam jika seseorang tidak bisa berkata- kata baik, beliau shalallahu alaihi wasallam bersabda: 

" من كان يؤمن بالله واليوم الأخر فاليَقُلْ خَيْرًا أوْ لِيَصْمُت..

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia BERBICARA hal-hal yang baik atau kalau tidak sebaiknya dia diam.”

Dalam hadits, pilihan diam bagi orang yang beriman adalah jika di khawatirkan dalam ucapannya ada  kejelekan, dosa atau hal yang negatif serta tiada manfaat.

Bukan larangan berbicara bagi orang yang ucapannya bermanfaat untuk orang lain, apalagi dalam dakwah yang manfaatnya luas bagi umat Islam.

Demikian pula Firman Allah:

ما يلفظ من قول إلا لديه رقيب عتيد

“Tidaklah terucap dari suatu perkataan kecuali ada pada seseorang  yang berbicara  malaikat Rokib & Atid.”

Ayat ini bukan berarti orang di tuntut harus jadi pendiam, TAPI BIMBINGAN AGAR BERHATI-HATI DALAM BERBICARA, tidak "asbun" atau asal "nyeplos", tetapi fikirlah apa yang hendak di ucapkan (ditulis). Karena semua yang berbicara di awasi oleh dua   malaikat yang akan mencatatnya. Dan perlu di ketahui, malaikat tidak hanya mencatat ucapan yang mengandung dosa tapi juga mencatat ucapan yang mengandung pahala, ( adapun jika ucapan tidak mengandung dosa atau tidak pula pahala, maka para ulama khilaf apakah di catat ataukah tidak,
demikian Ibnul Qayyim menjelaskan ).

Jadi jangan ragu berkontribusi dengan ucapan jika yakin itu baik dengan semangat mencari pahala.

Ayat dalam surat Al-Ashr,

"وتواصوا بالحق و تواصو بالصبر"

"Dan saling menasehati kepada Alhaq (dan agar selalu bersama Alhaq ). Serta saling menasehati untuk selalu dalam kesabaran.”

Bahwa orang yang selamat adalah orang beriman ( beraqidah shohihah ), orang yang berbuat amalan Sholeh serta orang yang BERBICARA ( dengan lisan atau tulisan) dalam perkara alhaq mengajak kepada Alhaq, berbicara menasehati orang lain untuk di atas kesabaran.

Jadi diam tidak selamanya adalah emas, terkadang berbicara jadi  pilihan lebih baik dan justru nilainya  lebih tinggi  jika itu bermanfaat di ucapkan dengan ikhlas dan dalam batas-batas syar'i, terlebih jika itu berdampak positif bagi  umat, semakin luas manfaatnya semakin besar pahala di peroleh dari ucapannya.

Dan manusia-manusia terbaik adalah mereka yang berbicara ( tentu bukan hanya asal bicara) 
cermatilah firman Allah berikut:

ومن أحسن قولا ممن دعا إلى الله وعمل صالحاً و قال إنني من المسلمين

“Siapakah  yang lebih baik ucapannya di banding orang yang mengajak kepada Allah dan ia beramal Sholeh serta berikrar dengan BERKATA aku bagian dari muslimiin ( orang-orang beriman & bertauhid ).”

Ayat yang artinya "siapakah yang lebih baik  ucapnya…”

adalah pertanyaan tapi bermakna  penegasan, karenanya salaf menafsirkan ayat :

"Tidak ada yang lebih baik ucapannya di banding mereka ( orang-orang yang  ikhlas  mengajak kepada jalan Allah ).

Dan dakwah BERBICARA mengajak kepada jalan Allah bukanlah profesi yang hanya di sampaikan di podium serta mickrofon, tapi adalah tanggung jawab setiap muslim, akan mendapatkan keutamaan siapa yang menunaikannya mau berkontribusi didalamnya serta  CINTA akan tersebarnya dakwah Islamiyyah & agama Allah. 

Allah dengan hikmahnya menjadikan di antara sebab hidayah & kebaikan adalah dengan  bayan melalui lisan  atau tulisan .

Jika semua diam, minder, khawatir takut berbicara menyampaikan kebaikan dan bahanya kebatilan
niscaya kita tidak tahu apa itu alhaq & batil juga sangat minim kebaikan yang tersebar .

Maka buanglah "waswasah syaithan" yang terbersit di benak dan fikiran negatif jika yakin ide atau apa yang hendak kita suarakan itu baik positif, maka sampaikanlah dengan ikhlas & adab. Berusahalah memberi sumbangsih walau dengan beberapa kalimat & kata-kata yang baik.

Di antara sifat dan keutamaan ahli iman berani  berbicara menyampaikan kebaikan mengajak kepada yang ma'ruf  tanpa perduli dan takut celaan, cemoohan 
para pencela ( لَوْمَةَ لَائم) 

Sering di sampaikan dalam  kajian nas-nas Al-qur'an & hadits  serta qaul salaf  tentang bahaya lisan itu semua bukan larangan atau tercelanya berbicara dan berpendapat, tetapi agar kita mengekang lisan, berhati hati berkomentar, berkata atau menukil perkataan karena kebanyakan orang yang berbicara justru mencelakakan dirinya dunia & akhirat  seperti kata pepatah:

"Mulutmu harimaumu.”

Dan lebih baik dari kata pepatah adalah peringatan dari nabi shalallahu alaihi:

وهل يكب الناس في النار على وجوهم أو على مناخرهم  إلا حصائد ألسنتهم؟ 

(الحديث رواه أحمد والترمذي وغيرهما )

"Bukankah ( kebanyakan) manusia di seret kedalam neraka dengan wajahnya tertelungkup kecuali karena sebab lisan mereka?” ( Alhadits shohih riwayat al-Imam At-Tirmidzi dll ).

Penggalan hadits Mu'adz Radhiyallahu'anhu ini peringatan agar waspada akan bahaya lisan dan berhati-hati sebelum berbicara, jangan sampai terjerumus dalam ucapan batil yang mengandung dosa. Bukan berarti celaan terhadap ucapan jika itu baik dan bermanfaat, terlebih bermanfaat untuk umat bagi tarbiyah & dakwah Islamiyyah.

والله تعالى أعلم 
وصلى الله على نبينا  محمد وعلى آله وسلم والحمدالله رب العالمين .

Singaraja, Bali 
Jum'at pagi 15 Rajab 1445 H / 26 Januari 2024 M

MERAIH PAHALA DENGAN BERBICARA

🍃🌾🌴 ETIKA DAN ADAB
Dari sahabat Umar bin Abi Salamah radhiyallahu 'anhu, ia bertutur,

كُنْتُ غُلَامًا فِي حَجْرِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَكَانَتْ يَدِي تَطِيْشُ فِي الصَّحْفَةِ، فَقًالَ لِي رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا غُلَامُ، سَمِّ اللهَ، وَكُلْ بِيَمِيْنِكَ، وَكُلْ مِمَّا يَلِيْكَ فَمَا زَالَتْ تِلكَ طِعْمَتِي بَعْدُ.

"Ketika saya masih kecil, saya dalam asuhan Rasulullah shallallahu 'alaihi sallam. Saat itu, tangan saya mengacak makanan yang berada di sisi piring. Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menasihati saya, 'Wahai ananda, sebutlah nama Allah (ucapkan bismillah), makanlah dengan menggunakan tangan kanan, dan makanlah makanan dari sisi piring terdekat.' Semenjak Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menasihati saya, maka saya pun senantiasa melaksanakan apa yang disampaikan beliau." [HR. Al-Bukhari, no.5376 dan Muslim, no. 2022]

Umar bin Abi Salamah adalah anak dari Ummul Mukminin, istri Nabi, Ummu Salamah. Ketika menikah dengan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, Ummu Salamah telah memiliki putra, Umar.

Sejak kecil, Umar dididik oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Dididik dengan penuh adab dan etika. Ditanamkan benar nilai-nilai berkeadaban, beretika.

Setelah usia beranjak, Umar tetap menunaikan pelajaran yang disampaikan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Pelajaran itu begitu kokoh tertanam pada diri Umar bin Abi Salamah. Nilai-nilai tentang adab yang diajarkan menjadi karakter dirinya. 

Era kini, penting memiliki adab. Penting menjadi manusia beretika. Sebab, tanpa adab manusia akan berbuat dengan tiada rasa malu. Melabrak ketentuan yang ada, seakan tiada melakukan kesalahan. Tak ada rasa malu. Tak ada rasa takut telah berbuat tidak patut. Yang penting, ambisi kotornya bisa tergapai sesuai rencana.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa melindungi dan menjaga negeri ini dan segenap rakyatnya dari kejahatan manusia-manusia berhati busuk.

✍️ al-Ustadz Abul Faruq Ayip Syafruddin حفظه الله
🍃🌾🌴🍃🌾🌴🍃🌾🌴🍃🌾

ETIKA DAN ADAB

🌾🌴🍃 SAAT AMAL DIPERLIHATKAN
Dari sahabat mulia Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

تُعْرَضُ الأَعْمَالُ عَلَى اللهِ يَوْمَ الاِثنَيْنِ وَالخَمِيْسِ ، فَأٌُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِي وَأَنَا صَائمٌ

"Diperlihatkan amal-amal (manusia) ke hadapan Allah saat hari Senin dan Kamis. Maka, saya menyukai bila amal saya diperlihatkan dalam keadaan saya tengah berpuasa." [HR. At-Tirmidzi, no. 737, Ibnu Majah, no. 1740 dan Ahmad, no. 8343]

Hadits di atas memuat keutamaan puasa Senin - Kamis. Saat itu, amal-amal manusia diperlihatkan ke hadapan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menyukai bila saat amal beliau diperlihatkan, beliau dalam keadaan tengah berpuasa. 

Seseorang yang tengah berpuasa adalah seseorang yang tengah menjalani ketaatan. Ia dalam keadaan beribadah, mendekatkan diri kepada Rabbul 'alamin. Puasa menjadikan seseorang yang menjalaninya dalam keadaan mengekang beragam perilaku yang bisa merusak nilai puasanya. 

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa mengokohkan kita agar selalu bisa berbuat kesalehan.

✍️ al-Ustadz Abul Faruq Ayip Syafruddin حفظه الله
🌾🌴🍃🌾🌴🍃🌾🌴🍃🌾🌴

SAAT AMAL DIPERLIHATKAN

🌾🌴🍃 PARA NABI MEMILIKI PENGALAMAN MENGGEMBALA KAMBING
Dari sahabat mulia Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

مَا بَعَثَ اللهُ نَبِيًّا إِلَّا رَاعِيَ غَنَمٍ، قَالَ لَهُ أَصْحَابُهُ: وَأَنْتَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: وَأَنَا كُنْتُ أَرْعاهَا لِأَهْلِ مَكَّةَ بِالقَرَارِيْطِ قَالَ سُوَيْدٌ: يَعْنِي كُلَّ شَاةٍ بِقِيْرَاطٍ

"Tiadalah Allah mengutus seorang nabi kecuali ia pernah menjadi penggembala kambing. Para sahabat bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, 'Dan engkau juga (pernah menjadi penggembala kambing), wahai Rasulullah?' Beliau menjawab, 'Saya pun pernah menggembalakan kambing milik penduduk Makkah dengan upah beberapa qirath.' Suwaid menjelaskan, 'Setiap satu ekor kambing diupahi satu qirath,." [HR. Al-Bukhari, no. 2262 dan Ibnu Majah, no. 2149]

Menggembala kambing bisa menjadi ajang untuk melatih kesabaran. Menggembala kambing memerlukan sikap lembut dan penyayang.

Terlebih bila kambing yang digembala berjumlah banyak, tentu memerlukan kedisiplinan untuk terus mengawasinya. Menggembala kambing membentuk kepribadian yang amanah dan bertanggung jawab atas setiap ekor yang digembalakan.

Menggembala kambing bukan pekerjaan hina. Justru para nabi yang diutus Allah Subhanahu wa Ta'ala pernah melakukan pekerjaan menjadi penggembala kambing. Bahkan, mendapat upah.

Banyak pembelajaran yang bisa dipetik dari menggembala kambing. Bukankah dengan menyayangi makhluk Allah (kambing), bisa mendatangkan kasih sayang-Nya? Maka, raihlah balasan yang mulia dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Ya, Allah, ya Rabb, limpahkanlah kasih sayang kepada kami, hapuslah segenap dosa yang lekat pada kami. Sesungguhnya Engkau Maha Penyayang lagi Maha Pengampun.

✍️ al-Ustadz Abul Faruq Ayip Syafruddin حفظه الله
🌴🍃🌾🌴🍃🌾🌴🍃🌾🌴🍃

PARA NABI MEMILIKI PENGALAMAN MENGGEMBALA KAMBING

🌴🍃🌾 TIDAK MEMILIKI RASA MALU = TIDAK MEMILIKI ADAB
Dari sahabat mulia Abu Mas'ud Uqbah bin Amr radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ مِمَّا أدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ، إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَافْعَلْ مَا شِئْتَ.
"Sesungguhnya, apa yang manusia dapatkan dari kalam kenabian, yaitu bila tidak memiliki rasa malu, maka berbuatlah sesukamu." [HR. Al-Bukhari, no. 3483]

Ketika rasa malu berbuat dosa sudah tidak ada, maka perilaku serendah apapun tidak dipedulikan. Martabat sebagai manusia tidak lagi dipikirkan. Yang ada di kepalanya adalah ambisi meraup dunia walau harus berperilaku hina menghinakan.

Akal jernih tidak lagi berfungsi. Buta hati telah menyelimuti. Perilakunya tidak lagi mulia, jauh dari nilai kemanusiaan yang beradab beretika. Rambu-rambu syariat diterabas. Perilaku menghalalkan segala cara.

Maka, bila sudah tidak memiliki rasa malu, berbuatlah sesukamu. Tapi ingat, semua perbuatan tentu memiliki akibat. Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak tidur. Dia Maha Mengetahui perbuatan hamba-hamba-Nya. Dia akan memberikan balasan. 

Ya, Allah, ya Rabb, kokohkanlah kami di atas agama-Mu.

✍️ al-Ustadz Abul Faruq Ayip Syafruddin حفظه الله
🌴🍃🌾🌴🍃🌾🌴🍃🌾🌴🍃

TIDAK MEMILIKI RASA MALU = TIDAK MEMILIKI ADAB