PERBEDAAN HUBBUL IMAAMAH DAN HUBBUR RIYAASAH DALAM DAKWAH ILALLAH

**

🎙Al-Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata:

“Dan perbedaan antara hubbur riyaasah(cinta kepemimpinan) dan hubbul imaarah(cinta keimamahan) dalam berdakwah ilallah adalah sebagaimana perbedaan antara pengagungan perintah Allah dan menasihati untuk-Nya dengan pengagungan terhadap diri sendiri dan upaya mendapat bagian untuk dirinya.

Maka sungguh seorang yang menasihati karena Allah, yang mengagungkan dan mencintai karena-Nya, dia akan suka Rabb-nya ditaati dan tidak dimaksiati, ia cinta kalimat-Nya meninggi, ia senang seluruh diin(ketaatan) milik Allah semata, dan gembira ketika hamba-hamba-Nya tunduk menaati perintah-perintah-Nya lagi menjauhi larangan-larangan-Nya.

☝🏻Maka sungguh ia telah menasihati Allah dalam ubudiyah(penghambaan) kepada-Nya dan sudah menasihati makhluk-Nya dalam berdakwah menyeru kepada Allah.

👉🏻 Sehingga ia mencintai al-imaamah(menjadi imam, panutan) dalam urusan diin. Bahkan ia memohon kepada Rabb-nya agar ia dijadikan golongan orang-orang yang bertakwa.

💡Adapun apa yang diteladani orang-orang bertakwa darinya sebagaimana ia meneladani terhadap orang-orang bertakwa tersebut, apabila hamba ini -yang ia seorang pendakwah ilallah- menyukai :

◼untuk ia dipandang mulia di mata mereka(al-muttaqiin),
◼disegani dalam hati-hati mereka,
◼dicintai oleh mereka,
◼dan dijadikan orang yang dipatuhi,
👉🏻 dalam rangka untuk mereka berimam dengannya dan mengikuti atsar Rasul lewat perantara tangannya, hal tersebut tidak memudharatkannya.

🌻Bahkan ia terpuji atas hal tersebut.

Sebab, ia seorang yang menyeru kepada Allah, yang senang Allah ditaati, diibadahi, dan diesakan.

Sehingga ia suka untuk ia dijadikan penolong dalam terwujudnya hal tersebut, menjadi media perantara kepadanya.

☝🏻Oleh karena ini, Allah menyebut tentang hamba-hamba-Nya yang ia khususkan dan puji mereka dalam tanziil-Nya(Al-Qur’anul Karim), dan Dia telah membaikkan ganjaran mereka di hari pertemuan dengan-Nya, lalu ia sebut mereka dengan sebaik-baik amalan dan sifat mereka, kemudian Dia berfirman:

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَاماً ﴿٧٤﴾

Dan orang-orang yang berkata: "Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. Q.S. Al-Furqaan: 74.

👉🏻Maka, mereka memohon kepada-Nya untuk ditenteramkan pandangan mereka dengan ketaatan isteri-isteri dan buah hati mereka kepadanya. Dan memohon untuk menyenangkan hati-hati mereka dengan pengikutan orang-orang bertakwa kepada mereka dalam menaati dan ber-ubudiyah kepada-Nya. Maka sungguh yang dijadikan imam dan yang mengikutinya akan saling tolong-menolong di atas ketaatan.

☝🏻Sehingga, tidak lain mereka memohon kepada-Nya dan meminta apa-apa yang mereka bisa menolong orang-orang bertakwa berada di atas keridhaan dan menaati-Nya -yaitu dengan mendakwahi mereka kepada Allah- dengan perantara al-imaamah (keimaman) dalam urusan diin, yang berasas sabar dan yakin. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ ﴿٢٤﴾

Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami. Q.S. As-Sajdah: 24.

👉🏻 Dan permohonan mereka untuk dijadikan imam bagi orang-orang bertakwa adalah permintaan untuk Dia memberi petunjuk, taufik, dan karunia ilmu-ilmu yang bermanfaat dan amalan-amalan shalih yang lahir dan batin, yang tidak akan sempurna keimaman kecuali dengan hal-hal tersebut.

💡Dan coba renungi bagaimana Allah menisbahkan mereka dalam ayat-ayat ini kepada nama-Nya Ar-Rahman Yang Maha Mulia, dalam rangka agar makhluk-Nya mengetahui bahwa hal keimaman ini tidak lain mereka meraihnya dengan sebab fadhilah(keutamaan) dari rahmat-Nya dan semata dari kedermawanan dan karunia-Nya.

💡Dan camkanlah bagaimana Dia jadikan ganjaran mereka di dalam surat ini berupa ghuraf yaitu tempat tinggal-tempat tinggal yang tinggi di jannah, disebabkan imamah dalam diin itu berasal dari tingkatan yang tinggi, bahkan termasuk derajat tertinggi yang dianugerahkan kepada hamba dalam diin, niscaya balasan atasnya adalah kamar yang tinggi di surga.

💦Dan hal ini berbeda dengan pencari ar-riyaasah (kepemimpinan, petinggi).

☝🏻Maka, sungguh orang yang memburunya akan berusaha mendapatkannya untuk meraih tujuan-tujuan mereka dengannya, berupa :

💥 harapan kedudukan tinggi di muka bumi,
💥 penghambaan hati-hati manusia dan kecondongannya kepada mereka,
💥 dan menginginkan pertolongan makhluk kepada mereka untuk mencapai seluruh tujuan-tujuan mereka, bersamaan kedudukan mereka tinggi di atas para makhluk dan memiliki kuasa yang memaksa atas mereka.

❗Maka akan dihasilkan kerusakan-kerusakan dari keinginan ini, yang tidak mengetahui (besarnya kerusakan itu) kecuali Allah, berupa:
◻perbuatan sewenang-wenang,
◼hasad,
◻tindakan melampaui batas,
◼kedengkian,
◻kezaliman,
◼fitnah/ musibah,
◻pembelaan untuk diri sendiri bukan hak Allah,
◼pengagungan seorang yang Allah hinakan,
◻perendahan orang yang Allah muliakan,

👉🏻 dan tidak akan sempurna kepemimpinan duniawi kecuali dengan hal-hal tersebut. Tidak akan tercapai kecuali dengannya, dan berlipat-lipat kerusakan-kerusakan darinya.

💦Sementara pimpinan-pimpinan itu dalam kebutaan tentang hal ini. Lalu apabila disingkap penutup mata mereka niscaya terang bagi mereka kerusakan yang mereka berada di atasnya. Terlebih lagi apabila mereka dikumpulkan (di padang Mahsyar) dalam rupa dzarr (benda yang sangat kecil) yang diinjak-injak kaki-kaki ahlul mauqif(orang-orang yang dikumpulkan di padang Mahsyar menunggu keputusan Allah) sebagai bentuk penghinaan, perendahan, dan pengecilan atas mereka sebagaimana mereka dahulu memandang kecil perintah Allah dan menghina hamba-hamba-Nya(ketika di dunia)."

🌏 Ar-Ruuh, Ibnul Qayyim, hal. 252.

-----------------

Muhasabah:

#Seorang yang ingin menjadi terdepan dan panutan dalam menegakkan ketaatan kepada Allah akan tinggi kedudukannya di dunia dan akhirat.

#Seorang yang mencari ketinggian di muka bumi dengan bertopeng ingin menegakkan diin bisa mencapai ketinggian posisi di dunia, namun tidak di akhirat.

#Seseorang yang berdakwah dengan semangat namun ternyata ada tujuan-tujuan pribadi akan menimbulkan banyak kerusakan dan kegaduhan.

#Betapa banyak kerusakan dalam urusan dakwah dikarenakan sekedar bermodal semangat tanpa ada ilmu yang matang dan bimbingan dari orang berilmu yang mumpuni, apalagi ditambah adanya ambisi-ambisi pribadi.

Alih bahasa: al Ustadz Abu Yahya al Maidany

Posting Komentar