MEMAAFKAN ITU MENYENANGKAN

Ibnu Bathal (Syarah Shahih Al Bukhari 6/575) menyebutkan kisah Al Hasan al Basri yang berdoa di suatu malam, "Ya Allah,maafkanlah orang-orang yang menzalimi diriku."

Doa itu diulang-ulang oleh beliau.

"Wahai Abu Said," seseorang menyapa Al Hasan dengan panggilan akrabnya keesokan harinya.

Orang itu melanjutkan, "Tadi malam, saya mendengar sendiri doa Anda agar Allah memaafkan orang-orang yang telah menzalimi Anda"

Saking banyak dan seringnya doa itu diulang,orang tersebut mengatakan, "Sampai-sampai saya berharap pernah menzalimi Anda."

Supaya termasuk yang didoakan Al Hasan untuk dimaafkan Allah.

"Kenapa Anda bersikap demikian?," tanyanya kepada Al Hasan.

Beliau menjawab : "Terlecut oleh firman Allah Ta'ala :

{ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُ‌هُ عَلَى الله }

Artinya : "Barangsiapa mau memaafkan dan bersikap mulia dalam memaafkan, pahalanya Allah yang menetapkan" (QS. Asy-Syura: 40) 

Luar biasa! 

Pahala dari Allah yang menjadi orientasi hidup mereka. Apapun tidak berharga jika dibanding pahala.

Emosi yang ingin diluapkan, kekesalan yang mau diungkapkan, kemarahan yang hendak dimuntahkan.

Itu semua ditahan.

Benci yang menggoda. Dendam yang menyapa. Ingin membalas dengan sikap yang sama.

Itu semua luruh dan runtuh di hadapan firman Allah Ta'ala.

Kawan, di pesantren itu, kita belajar dan berlatih untuk menahan diri dan mengekang emosi.

Mengendalikan diri dan mengelola sikap merupakan salah satu tujuan agung kenapa kita ingin hidup di pesantren.

Temanmu mungkin membuatmu tidak nyaman. Membuatmu kesal.

Sahabatmu rupanya bukan sahabat yang baik karena tidak pandai menutupi kekuranganmu. Bahkan ia mentertawakanmu.

Sudahlah.. ingat kembali firman Allah di atas. Maka, bakal lapang hatimu. Damai jiwamu.

Jika tidak demikian, sudah hilang kesempatan dapat pahala, sempit pula hatimu.

© Dari Buku : Anak Muda Dan Salaf
Posting Komentar