🍃🌾🌴 ETIKA DAN ADAB
Dari sahabat Umar bin Abi Salamah radhiyallahu 'anhu, ia bertutur,

كُنْتُ غُلَامًا فِي حَجْرِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَكَانَتْ يَدِي تَطِيْشُ فِي الصَّحْفَةِ، فَقًالَ لِي رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا غُلَامُ، سَمِّ اللهَ، وَكُلْ بِيَمِيْنِكَ، وَكُلْ مِمَّا يَلِيْكَ فَمَا زَالَتْ تِلكَ طِعْمَتِي بَعْدُ.

"Ketika saya masih kecil, saya dalam asuhan Rasulullah shallallahu 'alaihi sallam. Saat itu, tangan saya mengacak makanan yang berada di sisi piring. Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menasihati saya, 'Wahai ananda, sebutlah nama Allah (ucapkan bismillah), makanlah dengan menggunakan tangan kanan, dan makanlah makanan dari sisi piring terdekat.' Semenjak Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menasihati saya, maka saya pun senantiasa melaksanakan apa yang disampaikan beliau." [HR. Al-Bukhari, no.5376 dan Muslim, no. 2022]

Umar bin Abi Salamah adalah anak dari Ummul Mukminin, istri Nabi, Ummu Salamah. Ketika menikah dengan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, Ummu Salamah telah memiliki putra, Umar.

Sejak kecil, Umar dididik oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Dididik dengan penuh adab dan etika. Ditanamkan benar nilai-nilai berkeadaban, beretika.

Setelah usia beranjak, Umar tetap menunaikan pelajaran yang disampaikan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Pelajaran itu begitu kokoh tertanam pada diri Umar bin Abi Salamah. Nilai-nilai tentang adab yang diajarkan menjadi karakter dirinya. 

Era kini, penting memiliki adab. Penting menjadi manusia beretika. Sebab, tanpa adab manusia akan berbuat dengan tiada rasa malu. Melabrak ketentuan yang ada, seakan tiada melakukan kesalahan. Tak ada rasa malu. Tak ada rasa takut telah berbuat tidak patut. Yang penting, ambisi kotornya bisa tergapai sesuai rencana.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa melindungi dan menjaga negeri ini dan segenap rakyatnya dari kejahatan manusia-manusia berhati busuk.

✍️ al-Ustadz Abul Faruq Ayip Syafruddin حفظه الله
🍃🌾🌴🍃🌾🌴🍃🌾🌴🍃🌾

ETIKA DAN ADAB

🍃🌾🌴 ETIKA DAN ADAB
Dari sahabat Umar bin Abi Salamah radhiyallahu 'anhu, ia bertutur,

كُنْتُ غُلَامًا فِي حَجْرِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَكَانَتْ يَدِي تَطِيْشُ فِي الصَّحْفَةِ، فَقًالَ لِي رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا غُلَامُ، سَمِّ اللهَ، وَكُلْ بِيَمِيْنِكَ، وَكُلْ مِمَّا يَلِيْكَ فَمَا زَالَتْ تِلكَ طِعْمَتِي بَعْدُ.

"Ketika saya masih kecil, saya dalam asuhan Rasulullah shallallahu 'alaihi sallam. Saat itu, tangan saya mengacak makanan yang berada di sisi piring. Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menasihati saya, 'Wahai ananda, sebutlah nama Allah (ucapkan bismillah), makanlah dengan menggunakan tangan kanan, dan makanlah makanan dari sisi piring terdekat.' Semenjak Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menasihati saya, maka saya pun senantiasa melaksanakan apa yang disampaikan beliau." [HR. Al-Bukhari, no.5376 dan Muslim, no. 2022]

Umar bin Abi Salamah adalah anak dari Ummul Mukminin, istri Nabi, Ummu Salamah. Ketika menikah dengan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, Ummu Salamah telah memiliki putra, Umar.

Sejak kecil, Umar dididik oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Dididik dengan penuh adab dan etika. Ditanamkan benar nilai-nilai berkeadaban, beretika.

Setelah usia beranjak, Umar tetap menunaikan pelajaran yang disampaikan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Pelajaran itu begitu kokoh tertanam pada diri Umar bin Abi Salamah. Nilai-nilai tentang adab yang diajarkan menjadi karakter dirinya. 

Era kini, penting memiliki adab. Penting menjadi manusia beretika. Sebab, tanpa adab manusia akan berbuat dengan tiada rasa malu. Melabrak ketentuan yang ada, seakan tiada melakukan kesalahan. Tak ada rasa malu. Tak ada rasa takut telah berbuat tidak patut. Yang penting, ambisi kotornya bisa tergapai sesuai rencana.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa melindungi dan menjaga negeri ini dan segenap rakyatnya dari kejahatan manusia-manusia berhati busuk.

✍️ al-Ustadz Abul Faruq Ayip Syafruddin حفظه الله
🍃🌾🌴🍃🌾🌴🍃🌾🌴🍃🌾

Tidak ada komentar