MERAIH PAHALA DENGAN BERBICARA
بسم الله الرحمن الجحيم
Kadang kita banyak terlibat dan masuk ke dalam group & forum dakwah di medsos, baik group wa, telegram dan yang lainnya yang memang dibuat sebagai bagian dari musyawarah demi pengembangan dakwah salafiyah.

Tapi tidak sedikit yang ada didalamnya sangat minim keterlibatannya, bahkan ada sebagiannya tidak pernah ada sumbangsih sepatah "kata" sekalipun. Bertahun-tahun di dalam group tidak pernah ada reaksi darinya walau hanya sebatas salam dan tegur sapa kepada saudaranya yang mungkin sudah lama terpisah, yang tidak di temui di dunia nyata.
Entah karena minder merasa tidak pantas berbicara atau karena menganggap diam itu lebih baik daripada berbicara dan sebab lainnya.

*Kadang "diamnya" justru menimbulkan kecurigaan pada sebagian anggota yang lainnya, ada apa dengannya ?*

Memang diam itu lebih baik dari pada berbicara, tapi jika diamnya itu dari ucapan yang tidak bermanfaat, atau ragu apakah akan bermanfaat ataukah tidak ucapannya, terlebih jika sadar ucapannya berdampak negatif serta mengandung dosa. Tapi jika berbicara itu membawa kebaikan, apalagi untuk pendidikan ,  tarbiyah & dakwah ke jalan Allah di forum-forum musyawarah tersebut, maka bicara itu lebih baik di banding diam. Karenanya pilihan diam di sampaikan oleh nabi shalallahu alaihi wasallam jika seseorang tidak bisa berkata- kata baik, beliau shalallahu alaihi wasallam bersabda: 

" من كان يؤمن بالله واليوم الأخر فاليَقُلْ خَيْرًا أوْ لِيَصْمُت..

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia BERBICARA hal-hal yang baik atau kalau tidak sebaiknya dia diam.”

Dalam hadits, pilihan diam bagi orang yang beriman adalah jika di khawatirkan dalam ucapannya ada  kejelekan, dosa atau hal yang negatif serta tiada manfaat.

Bukan larangan berbicara bagi orang yang ucapannya bermanfaat untuk orang lain, apalagi dalam dakwah yang manfaatnya luas bagi umat Islam.

Demikian pula Firman Allah:

ما يلفظ من قول إلا لديه رقيب عتيد

“Tidaklah terucap dari suatu perkataan kecuali ada pada seseorang  yang berbicara  malaikat Rokib & Atid.”

Ayat ini bukan berarti orang di tuntut harus jadi pendiam, TAPI BIMBINGAN AGAR BERHATI-HATI DALAM BERBICARA, tidak "asbun" atau asal "nyeplos", tetapi fikirlah apa yang hendak di ucapkan (ditulis). Karena semua yang berbicara di awasi oleh dua   malaikat yang akan mencatatnya. Dan perlu di ketahui, malaikat tidak hanya mencatat ucapan yang mengandung dosa tapi juga mencatat ucapan yang mengandung pahala, ( adapun jika ucapan tidak mengandung dosa atau tidak pula pahala, maka para ulama khilaf apakah di catat ataukah tidak,
demikian Ibnul Qayyim menjelaskan ).

Jadi jangan ragu berkontribusi dengan ucapan jika yakin itu baik dengan semangat mencari pahala.

Ayat dalam surat Al-Ashr,

"وتواصوا بالحق و تواصو بالصبر"

"Dan saling menasehati kepada Alhaq (dan agar selalu bersama Alhaq ). Serta saling menasehati untuk selalu dalam kesabaran.”

Bahwa orang yang selamat adalah orang beriman ( beraqidah shohihah ), orang yang berbuat amalan Sholeh serta orang yang BERBICARA ( dengan lisan atau tulisan) dalam perkara alhaq mengajak kepada Alhaq, berbicara menasehati orang lain untuk di atas kesabaran.

Jadi diam tidak selamanya adalah emas, terkadang berbicara jadi  pilihan lebih baik dan justru nilainya  lebih tinggi  jika itu bermanfaat di ucapkan dengan ikhlas dan dalam batas-batas syar'i, terlebih jika itu berdampak positif bagi  umat, semakin luas manfaatnya semakin besar pahala di peroleh dari ucapannya.

Dan manusia-manusia terbaik adalah mereka yang berbicara ( tentu bukan hanya asal bicara) 
cermatilah firman Allah berikut:

ومن أحسن قولا ممن دعا إلى الله وعمل صالحاً و قال إنني من المسلمين

“Siapakah  yang lebih baik ucapannya di banding orang yang mengajak kepada Allah dan ia beramal Sholeh serta berikrar dengan BERKATA aku bagian dari muslimiin ( orang-orang beriman & bertauhid ).”

Ayat yang artinya "siapakah yang lebih baik  ucapnya…”

adalah pertanyaan tapi bermakna  penegasan, karenanya salaf menafsirkan ayat :

"Tidak ada yang lebih baik ucapannya di banding mereka ( orang-orang yang  ikhlas  mengajak kepada jalan Allah ).

Dan dakwah BERBICARA mengajak kepada jalan Allah bukanlah profesi yang hanya di sampaikan di podium serta mickrofon, tapi adalah tanggung jawab setiap muslim, akan mendapatkan keutamaan siapa yang menunaikannya mau berkontribusi didalamnya serta  CINTA akan tersebarnya dakwah Islamiyyah & agama Allah. 

Allah dengan hikmahnya menjadikan di antara sebab hidayah & kebaikan adalah dengan  bayan melalui lisan  atau tulisan .

Jika semua diam, minder, khawatir takut berbicara menyampaikan kebaikan dan bahanya kebatilan
niscaya kita tidak tahu apa itu alhaq & batil juga sangat minim kebaikan yang tersebar .

Maka buanglah "waswasah syaithan" yang terbersit di benak dan fikiran negatif jika yakin ide atau apa yang hendak kita suarakan itu baik positif, maka sampaikanlah dengan ikhlas & adab. Berusahalah memberi sumbangsih walau dengan beberapa kalimat & kata-kata yang baik.

Di antara sifat dan keutamaan ahli iman berani  berbicara menyampaikan kebaikan mengajak kepada yang ma'ruf  tanpa perduli dan takut celaan, cemoohan 
para pencela ( لَوْمَةَ لَائم) 

Sering di sampaikan dalam  kajian nas-nas Al-qur'an & hadits  serta qaul salaf  tentang bahaya lisan itu semua bukan larangan atau tercelanya berbicara dan berpendapat, tetapi agar kita mengekang lisan, berhati hati berkomentar, berkata atau menukil perkataan karena kebanyakan orang yang berbicara justru mencelakakan dirinya dunia & akhirat  seperti kata pepatah:

"Mulutmu harimaumu.”

Dan lebih baik dari kata pepatah adalah peringatan dari nabi shalallahu alaihi:

وهل يكب الناس في النار على وجوهم أو على مناخرهم  إلا حصائد ألسنتهم؟ 

(الحديث رواه أحمد والترمذي وغيرهما )

"Bukankah ( kebanyakan) manusia di seret kedalam neraka dengan wajahnya tertelungkup kecuali karena sebab lisan mereka?” ( Alhadits shohih riwayat al-Imam At-Tirmidzi dll ).

Penggalan hadits Mu'adz Radhiyallahu'anhu ini peringatan agar waspada akan bahaya lisan dan berhati-hati sebelum berbicara, jangan sampai terjerumus dalam ucapan batil yang mengandung dosa. Bukan berarti celaan terhadap ucapan jika itu baik dan bermanfaat, terlebih bermanfaat untuk umat bagi tarbiyah & dakwah Islamiyyah.

والله تعالى أعلم 
وصلى الله على نبينا  محمد وعلى آله وسلم والحمدالله رب العالمين .

Singaraja, Bali 
Jum'at pagi 15 Rajab 1445 H / 26 Januari 2024 M

MERAIH PAHALA DENGAN BERBICARA

MERAIH PAHALA DENGAN BERBICARA
بسم الله الرحمن الجحيم
Kadang kita banyak terlibat dan masuk ke dalam group & forum dakwah di medsos, baik group wa, telegram dan yang lainnya yang memang dibuat sebagai bagian dari musyawarah demi pengembangan dakwah salafiyah.

Tapi tidak sedikit yang ada didalamnya sangat minim keterlibatannya, bahkan ada sebagiannya tidak pernah ada sumbangsih sepatah "kata" sekalipun. Bertahun-tahun di dalam group tidak pernah ada reaksi darinya walau hanya sebatas salam dan tegur sapa kepada saudaranya yang mungkin sudah lama terpisah, yang tidak di temui di dunia nyata.
Entah karena minder merasa tidak pantas berbicara atau karena menganggap diam itu lebih baik daripada berbicara dan sebab lainnya.

*Kadang "diamnya" justru menimbulkan kecurigaan pada sebagian anggota yang lainnya, ada apa dengannya ?*

Memang diam itu lebih baik dari pada berbicara, tapi jika diamnya itu dari ucapan yang tidak bermanfaat, atau ragu apakah akan bermanfaat ataukah tidak ucapannya, terlebih jika sadar ucapannya berdampak negatif serta mengandung dosa. Tapi jika berbicara itu membawa kebaikan, apalagi untuk pendidikan ,  tarbiyah & dakwah ke jalan Allah di forum-forum musyawarah tersebut, maka bicara itu lebih baik di banding diam. Karenanya pilihan diam di sampaikan oleh nabi shalallahu alaihi wasallam jika seseorang tidak bisa berkata- kata baik, beliau shalallahu alaihi wasallam bersabda: 

" من كان يؤمن بالله واليوم الأخر فاليَقُلْ خَيْرًا أوْ لِيَصْمُت..

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia BERBICARA hal-hal yang baik atau kalau tidak sebaiknya dia diam.”

Dalam hadits, pilihan diam bagi orang yang beriman adalah jika di khawatirkan dalam ucapannya ada  kejelekan, dosa atau hal yang negatif serta tiada manfaat.

Bukan larangan berbicara bagi orang yang ucapannya bermanfaat untuk orang lain, apalagi dalam dakwah yang manfaatnya luas bagi umat Islam.

Demikian pula Firman Allah:

ما يلفظ من قول إلا لديه رقيب عتيد

“Tidaklah terucap dari suatu perkataan kecuali ada pada seseorang  yang berbicara  malaikat Rokib & Atid.”

Ayat ini bukan berarti orang di tuntut harus jadi pendiam, TAPI BIMBINGAN AGAR BERHATI-HATI DALAM BERBICARA, tidak "asbun" atau asal "nyeplos", tetapi fikirlah apa yang hendak di ucapkan (ditulis). Karena semua yang berbicara di awasi oleh dua   malaikat yang akan mencatatnya. Dan perlu di ketahui, malaikat tidak hanya mencatat ucapan yang mengandung dosa tapi juga mencatat ucapan yang mengandung pahala, ( adapun jika ucapan tidak mengandung dosa atau tidak pula pahala, maka para ulama khilaf apakah di catat ataukah tidak,
demikian Ibnul Qayyim menjelaskan ).

Jadi jangan ragu berkontribusi dengan ucapan jika yakin itu baik dengan semangat mencari pahala.

Ayat dalam surat Al-Ashr,

"وتواصوا بالحق و تواصو بالصبر"

"Dan saling menasehati kepada Alhaq (dan agar selalu bersama Alhaq ). Serta saling menasehati untuk selalu dalam kesabaran.”

Bahwa orang yang selamat adalah orang beriman ( beraqidah shohihah ), orang yang berbuat amalan Sholeh serta orang yang BERBICARA ( dengan lisan atau tulisan) dalam perkara alhaq mengajak kepada Alhaq, berbicara menasehati orang lain untuk di atas kesabaran.

Jadi diam tidak selamanya adalah emas, terkadang berbicara jadi  pilihan lebih baik dan justru nilainya  lebih tinggi  jika itu bermanfaat di ucapkan dengan ikhlas dan dalam batas-batas syar'i, terlebih jika itu berdampak positif bagi  umat, semakin luas manfaatnya semakin besar pahala di peroleh dari ucapannya.

Dan manusia-manusia terbaik adalah mereka yang berbicara ( tentu bukan hanya asal bicara) 
cermatilah firman Allah berikut:

ومن أحسن قولا ممن دعا إلى الله وعمل صالحاً و قال إنني من المسلمين

“Siapakah  yang lebih baik ucapannya di banding orang yang mengajak kepada Allah dan ia beramal Sholeh serta berikrar dengan BERKATA aku bagian dari muslimiin ( orang-orang beriman & bertauhid ).”

Ayat yang artinya "siapakah yang lebih baik  ucapnya…”

adalah pertanyaan tapi bermakna  penegasan, karenanya salaf menafsirkan ayat :

"Tidak ada yang lebih baik ucapannya di banding mereka ( orang-orang yang  ikhlas  mengajak kepada jalan Allah ).

Dan dakwah BERBICARA mengajak kepada jalan Allah bukanlah profesi yang hanya di sampaikan di podium serta mickrofon, tapi adalah tanggung jawab setiap muslim, akan mendapatkan keutamaan siapa yang menunaikannya mau berkontribusi didalamnya serta  CINTA akan tersebarnya dakwah Islamiyyah & agama Allah. 

Allah dengan hikmahnya menjadikan di antara sebab hidayah & kebaikan adalah dengan  bayan melalui lisan  atau tulisan .

Jika semua diam, minder, khawatir takut berbicara menyampaikan kebaikan dan bahanya kebatilan
niscaya kita tidak tahu apa itu alhaq & batil juga sangat minim kebaikan yang tersebar .

Maka buanglah "waswasah syaithan" yang terbersit di benak dan fikiran negatif jika yakin ide atau apa yang hendak kita suarakan itu baik positif, maka sampaikanlah dengan ikhlas & adab. Berusahalah memberi sumbangsih walau dengan beberapa kalimat & kata-kata yang baik.

Di antara sifat dan keutamaan ahli iman berani  berbicara menyampaikan kebaikan mengajak kepada yang ma'ruf  tanpa perduli dan takut celaan, cemoohan 
para pencela ( لَوْمَةَ لَائم) 

Sering di sampaikan dalam  kajian nas-nas Al-qur'an & hadits  serta qaul salaf  tentang bahaya lisan itu semua bukan larangan atau tercelanya berbicara dan berpendapat, tetapi agar kita mengekang lisan, berhati hati berkomentar, berkata atau menukil perkataan karena kebanyakan orang yang berbicara justru mencelakakan dirinya dunia & akhirat  seperti kata pepatah:

"Mulutmu harimaumu.”

Dan lebih baik dari kata pepatah adalah peringatan dari nabi shalallahu alaihi:

وهل يكب الناس في النار على وجوهم أو على مناخرهم  إلا حصائد ألسنتهم؟ 

(الحديث رواه أحمد والترمذي وغيرهما )

"Bukankah ( kebanyakan) manusia di seret kedalam neraka dengan wajahnya tertelungkup kecuali karena sebab lisan mereka?” ( Alhadits shohih riwayat al-Imam At-Tirmidzi dll ).

Penggalan hadits Mu'adz Radhiyallahu'anhu ini peringatan agar waspada akan bahaya lisan dan berhati-hati sebelum berbicara, jangan sampai terjerumus dalam ucapan batil yang mengandung dosa. Bukan berarti celaan terhadap ucapan jika itu baik dan bermanfaat, terlebih bermanfaat untuk umat bagi tarbiyah & dakwah Islamiyyah.

والله تعالى أعلم 
وصلى الله على نبينا  محمد وعلى آله وسلم والحمدالله رب العالمين .

Singaraja, Bali 
Jum'at pagi 15 Rajab 1445 H / 26 Januari 2024 M

Tidak ada komentar