MUNGKINKAH INI JUGA PERASAAN TERPENDAM BAPAK KITA?
 _______
Di antara kisah tercetusnya sabda Rasul shalallahu alaihi wasallam mengenai harta kita boleh dimanfaatkan ayah kita adalah kisah yang diriwayatkan Ath Thabaraniy dalam Mu'jamnya sampai pada shahabat Jabir radhiyallahu anhu.

 Beliau radhiyallahu anhu berkisah:

جاء رجل إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال: يا رسول الله! إن أبي أخذ مالي. 

Datang seorang pria kepada Nabi sholallahu alaihi wasallam lalu berkata : "Ya Rasulallah, sungguh bapakku mengambil hartaku."

فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم للرجل: اذهب فأتني بأبيك.
 Maka Rasulullah shalallahu alaihi wasallam pun berkata pada pria itu : " Silakan anda pergi untuk menjemput dan membawa ayah anda kemari."

 فنزل جبريل على النبي صلى الله عليه وسلم فقال: إن الله يقرئك السلام ويقول: إذا جاءك الشيخ فسله عن شيء قاله في نفسه ما سمعته 
أذناه

Maka turunlah malaikat Jibril kepada Nabi shalallahu alaihi wasallam dan berkata : "Sesungguhnya Allah mengirimkan salam pada anda wahai Nabi sekaligus berpesan jika bapak tua itu sudah datang maka tanyailah bapak itu dengan ganjalan hatinya yang belum pernah didengar telinganya sendiri (yakni belum pernah dia ucapkan).

 فلما جاء الشيخ قال له النبي صلى الله عليه وسلم: مازال ابنك يشكوك أنك تأخذ ماله? 
Maka manakala bapak pria tadi sudah dihadirkan, Nabi shalallahu alaihi wasallam pun berkata padanya : "Ada apa gerangan tadi terus menerus putramu mengadukanmu padaku bahwa anda mengambil harta miliknya?"

قال: سله يا رسول الله هل أنفقه إلا على إحدى عماته أو خالاته أو على نفسي? 
Bapak tua itu menjawab : "Tanyailah putraku wahai Rasulullah. Apakah aku mengambil hartanya untuk kuinfaqkan pada salah satu saudariku yakni bibinya , atau saudari ibunya, atau untuk diriku sendiri?

فقال النبي صلى الله عليه وسلم: إيه دعنا من هذا، أخبرني عن شيء قلته في نفسك ما سمعته أذناك

Kemudian Nabi shalallahu alaihi wasallam berkata : " Sudahlah, kita tinggalkan sejenak tentang itu. Kabarkan tentang sesuatu yang hatimu mengeluhkannya, tetapi dua telingamu tidak sempat mendengarnya!"

، قال الشيخ: والله يا رسول الله ما يزال الله يزيدنا بك يقينا، قلتُ في نفسي شيئًا ما سمعته أذناي. قال: قل وأنا أسمع. 

Bapak tua itu menjawab: Demi Allah, wahai Rasul Allah, senantiasa Allah membuat aku beriman kepada anda dan terus bertambah keyakinanku. Aku memang telah memiliki keluhan hati yang tidak pernah kedua telingaku mendengarnya (karena tidak pernah kuucapkan)."

Maka Nabi shalallahu alaihi wasallam berkata : "Maka katakanlah kepadaku, aku akan mendengarkannya."

:قال: قلتُ

Bapak tua itu mengungkapkan keluh kesahnya (dalam beberapa baris syair) :

غذوتك مولودا وعلتك يافعا **** تعل بما أجني عليك وتنهل

Aku yang mengasuhmu saat kelahiranmu
Aku mencukupimu di masa remajamu
Semua hasil lelahku kau reguk sepuas hatimu

إذا ليلة ضافتك بالسقم لم أبت **** لسقمك إلا ساهرا أتململ

Bila di waktu malam hari tertimpa sakit, duhai putraku
maka yang tidak bisa tidur lantaran sakitmu adalah diriku
Aku resah dan gelisah lantaran sedih atas rasa sakitmu

تخاف الردى نفسي عليك وإنها **** لتعلم أن الموت وقت مؤجل

Aku khawatir maut akan menyambar jiwamu
Padahal maut sudah ditentukan ajalnya, aku tahu itu.

كأني أنا المطروق دونك بالذي **** طرقت به دوني فعيناي تهمل

Seakan - akan sakit itu menimpa diriku
dan bukan engkau yang sakit wahai buah hatiku
Saking sedihnya, air mata sudah lelah mengucur dari mataku

فلما بلغت السن والغاية التي **** إليها مدى ما فيك كنت أؤمل
Manakala masa dewasa mulai mendatangimu
dan kamu meraih segenap cita - cita hidupmu.
Cita - cita yang selalu kuharapkan tercapai untukmu.

جعلت جزائي غلظة وفظاظة **** كأنك أنت المنعم المتفضل
 Lalu kudapati balasanku adalah sifat kaku dan kata - kata keras darimu.

Seakan - akan selama ini kamulah yang mencukupiku
Seolah - olah kamu selama ini paripurna memuliakan hidupku.

فليتك إذ لم ترع حق أبوتي **** فعلت كما الجار المجاور يفعل
Seandainya engkau memang sudah tidak peduli pada hak -hakku
sebagai seorang ayah bagimu.

Bersikaplah saja seolah aku tetangga baikmu.
Bersikap baiklah kamu kepada aku seperti sikapmu pada tetanggamu.

قال: فعند ذلك أخذ النبي صلى الله عليه وسلم بتلابيب ابنه وقال: (أنت ومالك لأبيك).

Maka Jabir berkata:

"Manakala mendengar rintihan hati sang bapak, Nabi shalallahu alaihi wasallam mencengkeram kerah baju anak itu lalu berkata : "Engkau dan hartamu adalah milik bapakmu."

__________ *******______

Hadits ini saya baca di mimbar Jum'at pekan kedua yang lalu. Suara saya tercekat dan mata saya memerah tatkala membaca baris syair di atas. Saya terpikir , betapa lalainya saya atas nikmat memiliki ayah yang masih hidup.

Ya Allah, ampuni saya. Beri taufiq saya yang lalai ini untuk berbakti pada ayah- ibu saya.

✍️ al-Ustadz Jarot Sidoarjo حفظه الله

MUNGKINKAH INI JUGA PERASAAN TERPENDAM BAPAK KITA?

MUNGKINKAH INI JUGA PERASAAN TERPENDAM BAPAK KITA?
 _______
Di antara kisah tercetusnya sabda Rasul shalallahu alaihi wasallam mengenai harta kita boleh dimanfaatkan ayah kita adalah kisah yang diriwayatkan Ath Thabaraniy dalam Mu'jamnya sampai pada shahabat Jabir radhiyallahu anhu.

 Beliau radhiyallahu anhu berkisah:

جاء رجل إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال: يا رسول الله! إن أبي أخذ مالي. 

Datang seorang pria kepada Nabi sholallahu alaihi wasallam lalu berkata : "Ya Rasulallah, sungguh bapakku mengambil hartaku."

فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم للرجل: اذهب فأتني بأبيك.
 Maka Rasulullah shalallahu alaihi wasallam pun berkata pada pria itu : " Silakan anda pergi untuk menjemput dan membawa ayah anda kemari."

 فنزل جبريل على النبي صلى الله عليه وسلم فقال: إن الله يقرئك السلام ويقول: إذا جاءك الشيخ فسله عن شيء قاله في نفسه ما سمعته 
أذناه

Maka turunlah malaikat Jibril kepada Nabi shalallahu alaihi wasallam dan berkata : "Sesungguhnya Allah mengirimkan salam pada anda wahai Nabi sekaligus berpesan jika bapak tua itu sudah datang maka tanyailah bapak itu dengan ganjalan hatinya yang belum pernah didengar telinganya sendiri (yakni belum pernah dia ucapkan).

 فلما جاء الشيخ قال له النبي صلى الله عليه وسلم: مازال ابنك يشكوك أنك تأخذ ماله? 
Maka manakala bapak pria tadi sudah dihadirkan, Nabi shalallahu alaihi wasallam pun berkata padanya : "Ada apa gerangan tadi terus menerus putramu mengadukanmu padaku bahwa anda mengambil harta miliknya?"

قال: سله يا رسول الله هل أنفقه إلا على إحدى عماته أو خالاته أو على نفسي? 
Bapak tua itu menjawab : "Tanyailah putraku wahai Rasulullah. Apakah aku mengambil hartanya untuk kuinfaqkan pada salah satu saudariku yakni bibinya , atau saudari ibunya, atau untuk diriku sendiri?

فقال النبي صلى الله عليه وسلم: إيه دعنا من هذا، أخبرني عن شيء قلته في نفسك ما سمعته أذناك

Kemudian Nabi shalallahu alaihi wasallam berkata : " Sudahlah, kita tinggalkan sejenak tentang itu. Kabarkan tentang sesuatu yang hatimu mengeluhkannya, tetapi dua telingamu tidak sempat mendengarnya!"

، قال الشيخ: والله يا رسول الله ما يزال الله يزيدنا بك يقينا، قلتُ في نفسي شيئًا ما سمعته أذناي. قال: قل وأنا أسمع. 

Bapak tua itu menjawab: Demi Allah, wahai Rasul Allah, senantiasa Allah membuat aku beriman kepada anda dan terus bertambah keyakinanku. Aku memang telah memiliki keluhan hati yang tidak pernah kedua telingaku mendengarnya (karena tidak pernah kuucapkan)."

Maka Nabi shalallahu alaihi wasallam berkata : "Maka katakanlah kepadaku, aku akan mendengarkannya."

:قال: قلتُ

Bapak tua itu mengungkapkan keluh kesahnya (dalam beberapa baris syair) :

غذوتك مولودا وعلتك يافعا **** تعل بما أجني عليك وتنهل

Aku yang mengasuhmu saat kelahiranmu
Aku mencukupimu di masa remajamu
Semua hasil lelahku kau reguk sepuas hatimu

إذا ليلة ضافتك بالسقم لم أبت **** لسقمك إلا ساهرا أتململ

Bila di waktu malam hari tertimpa sakit, duhai putraku
maka yang tidak bisa tidur lantaran sakitmu adalah diriku
Aku resah dan gelisah lantaran sedih atas rasa sakitmu

تخاف الردى نفسي عليك وإنها **** لتعلم أن الموت وقت مؤجل

Aku khawatir maut akan menyambar jiwamu
Padahal maut sudah ditentukan ajalnya, aku tahu itu.

كأني أنا المطروق دونك بالذي **** طرقت به دوني فعيناي تهمل

Seakan - akan sakit itu menimpa diriku
dan bukan engkau yang sakit wahai buah hatiku
Saking sedihnya, air mata sudah lelah mengucur dari mataku

فلما بلغت السن والغاية التي **** إليها مدى ما فيك كنت أؤمل
Manakala masa dewasa mulai mendatangimu
dan kamu meraih segenap cita - cita hidupmu.
Cita - cita yang selalu kuharapkan tercapai untukmu.

جعلت جزائي غلظة وفظاظة **** كأنك أنت المنعم المتفضل
 Lalu kudapati balasanku adalah sifat kaku dan kata - kata keras darimu.

Seakan - akan selama ini kamulah yang mencukupiku
Seolah - olah kamu selama ini paripurna memuliakan hidupku.

فليتك إذ لم ترع حق أبوتي **** فعلت كما الجار المجاور يفعل
Seandainya engkau memang sudah tidak peduli pada hak -hakku
sebagai seorang ayah bagimu.

Bersikaplah saja seolah aku tetangga baikmu.
Bersikap baiklah kamu kepada aku seperti sikapmu pada tetanggamu.

قال: فعند ذلك أخذ النبي صلى الله عليه وسلم بتلابيب ابنه وقال: (أنت ومالك لأبيك).

Maka Jabir berkata:

"Manakala mendengar rintihan hati sang bapak, Nabi shalallahu alaihi wasallam mencengkeram kerah baju anak itu lalu berkata : "Engkau dan hartamu adalah milik bapakmu."

__________ *******______

Hadits ini saya baca di mimbar Jum'at pekan kedua yang lalu. Suara saya tercekat dan mata saya memerah tatkala membaca baris syair di atas. Saya terpikir , betapa lalainya saya atas nikmat memiliki ayah yang masih hidup.

Ya Allah, ampuni saya. Beri taufiq saya yang lalai ini untuk berbakti pada ayah- ibu saya.

✍️ al-Ustadz Jarot Sidoarjo حفظه الله

Tidak ada komentar