🌾🌴🍃 PARA NABI MEMILIKI PENGALAMAN MENGGEMBALA KAMBING
Dari sahabat mulia Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

مَا بَعَثَ اللهُ نَبِيًّا إِلَّا رَاعِيَ غَنَمٍ، قَالَ لَهُ أَصْحَابُهُ: وَأَنْتَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: وَأَنَا كُنْتُ أَرْعاهَا لِأَهْلِ مَكَّةَ بِالقَرَارِيْطِ قَالَ سُوَيْدٌ: يَعْنِي كُلَّ شَاةٍ بِقِيْرَاطٍ

"Tiadalah Allah mengutus seorang nabi kecuali ia pernah menjadi penggembala kambing. Para sahabat bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, 'Dan engkau juga (pernah menjadi penggembala kambing), wahai Rasulullah?' Beliau menjawab, 'Saya pun pernah menggembalakan kambing milik penduduk Makkah dengan upah beberapa qirath.' Suwaid menjelaskan, 'Setiap satu ekor kambing diupahi satu qirath,." [HR. Al-Bukhari, no. 2262 dan Ibnu Majah, no. 2149]

Menggembala kambing bisa menjadi ajang untuk melatih kesabaran. Menggembala kambing memerlukan sikap lembut dan penyayang.

Terlebih bila kambing yang digembala berjumlah banyak, tentu memerlukan kedisiplinan untuk terus mengawasinya. Menggembala kambing membentuk kepribadian yang amanah dan bertanggung jawab atas setiap ekor yang digembalakan.

Menggembala kambing bukan pekerjaan hina. Justru para nabi yang diutus Allah Subhanahu wa Ta'ala pernah melakukan pekerjaan menjadi penggembala kambing. Bahkan, mendapat upah.

Banyak pembelajaran yang bisa dipetik dari menggembala kambing. Bukankah dengan menyayangi makhluk Allah (kambing), bisa mendatangkan kasih sayang-Nya? Maka, raihlah balasan yang mulia dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Ya, Allah, ya Rabb, limpahkanlah kasih sayang kepada kami, hapuslah segenap dosa yang lekat pada kami. Sesungguhnya Engkau Maha Penyayang lagi Maha Pengampun.

✍️ al-Ustadz Abul Faruq Ayip Syafruddin حفظه الله
🌴🍃🌾🌴🍃🌾🌴🍃🌾🌴🍃

PARA NABI MEMILIKI PENGALAMAN MENGGEMBALA KAMBING

🌾🌴🍃 PARA NABI MEMILIKI PENGALAMAN MENGGEMBALA KAMBING
Dari sahabat mulia Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

مَا بَعَثَ اللهُ نَبِيًّا إِلَّا رَاعِيَ غَنَمٍ، قَالَ لَهُ أَصْحَابُهُ: وَأَنْتَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: وَأَنَا كُنْتُ أَرْعاهَا لِأَهْلِ مَكَّةَ بِالقَرَارِيْطِ قَالَ سُوَيْدٌ: يَعْنِي كُلَّ شَاةٍ بِقِيْرَاطٍ

"Tiadalah Allah mengutus seorang nabi kecuali ia pernah menjadi penggembala kambing. Para sahabat bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, 'Dan engkau juga (pernah menjadi penggembala kambing), wahai Rasulullah?' Beliau menjawab, 'Saya pun pernah menggembalakan kambing milik penduduk Makkah dengan upah beberapa qirath.' Suwaid menjelaskan, 'Setiap satu ekor kambing diupahi satu qirath,." [HR. Al-Bukhari, no. 2262 dan Ibnu Majah, no. 2149]

Menggembala kambing bisa menjadi ajang untuk melatih kesabaran. Menggembala kambing memerlukan sikap lembut dan penyayang.

Terlebih bila kambing yang digembala berjumlah banyak, tentu memerlukan kedisiplinan untuk terus mengawasinya. Menggembala kambing membentuk kepribadian yang amanah dan bertanggung jawab atas setiap ekor yang digembalakan.

Menggembala kambing bukan pekerjaan hina. Justru para nabi yang diutus Allah Subhanahu wa Ta'ala pernah melakukan pekerjaan menjadi penggembala kambing. Bahkan, mendapat upah.

Banyak pembelajaran yang bisa dipetik dari menggembala kambing. Bukankah dengan menyayangi makhluk Allah (kambing), bisa mendatangkan kasih sayang-Nya? Maka, raihlah balasan yang mulia dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Ya, Allah, ya Rabb, limpahkanlah kasih sayang kepada kami, hapuslah segenap dosa yang lekat pada kami. Sesungguhnya Engkau Maha Penyayang lagi Maha Pengampun.

✍️ al-Ustadz Abul Faruq Ayip Syafruddin حفظه الله
🌴🍃🌾🌴🍃🌾🌴🍃🌾🌴🍃

Tidak ada komentar