~ Negeri Para Komentator ~
Membaca surat kabar pada hari-hari belakangan ini sering membuat hati merasa jengah. Mayoritas berita isinya mengabarkan hal buruk yang terjadi di negeri ini. Mulai dari masalah KKN, rebutan kekuasaan, bencana alam, meningkatnya kemiskinan dan kriminalitas, hingga terorisme. Jarang sekali dimuat berita yang menyejukkan hati.

Banyak masalah yang harus dibenahi ini tentu membutuhkan masukan dan solusi dari berbagai pihak. Namun, masukan itu tentunya dari pihak yang memang ahlinya, dengan cara yang santun (baca: sesuai aturan syar’i), bukan dari orang yang hanya asal pandai berbicara dan menkritik. Bak jamur di musim hujan, sayangnya justru orang yang asal pandai menkritik inilah yang semakin hari semakin banyak di negeri ini. Mereka saling mengkritik, bahkan saling menghujat. Semua pendapat dikeluarkan tanpa memikirkan apakah pendapat itu bersifat membangun atau malah merusak. Yang penting bagaimana caranya supaya dirinya bisa disebut sebagai komentator yang ahli.

Menjadi komentator jelas tidak mempunyai beban yang terlalu berat jika dibandingkan dengan menjadi pelaku. Ketika menjadi komentator, seseorang bisa berbicara dengan lugas, tapi ketika menjadi pemikul amanah, tentu tidak mudah melaksanakan tugas-tugasnya. Tak banyak orang yang mau menjadi pelaku, saat sebelumnya dikenal sebagai komentator. Mereka khawatir tidak mampu membuat solusi seperti yang selama ini mereka suarakan.

Para komentator ini bukan hanya mereka yang muncul di televisi, tetapi juga ada hingga level rumah tangga. Kita sering melihat orangtua yang menasihati anaknya agar rajin belajar dan shalat tepat waktu, namun dianya sendiri mengabaikan suara adzan dan malah asyik menonton televisi dengan suara keras ketika anaknya sedang belajar di malam hari.

Ya, inilah suasana Indonesia sekarang, negeri para komentator, negeri yang memiliki banyak orang yang pintar berbicara tetapi jarang bertindak memberikan solusi yang nyata.

======================

Pembaca yang dirahmati Allah ‘Azza Wa Jalla…

Melakukan koreksi dan kritik merupakan hal yang baik apabila itu didasari dengan ilmu dan dengan penyampaian yang tepat. Namun ketika kebanyakannya hanya mengkritik, tentu tidak ada buah yang bisa dipetik. Memang negeri kita saat ini sedang menghadapi berbagai permasalahan yang berat. Namun apakah dengan serapah kita dapat menyelesaikan masalah ?

Coba lihat kondisi sekarang. Semua pihak saling bersuara menuntut pemerintah harus bertanggung jawab atas semua masalah ini. Demonstrasi-demonstrasi pun digelar dengan agenda yang sama:

Pemerintah ini tidak tegas! Tidak becus dalam mengurusi negara! Ganti pemimpin sekarang juga!

Wah, ide mengganti pemerintah? Masyarakat kita sudah terlalu capek gonta-ganti pemerintah. Sengketa pilkada saja sudah merugikan semua pihak. Mengganti pemerintahan jelas tidak akan menyelesaikan masalah.

Lalu apa yang bisa kita lakukan bagi negeri ini?

Pembaca yang dirahmati Allah...

Kita bisa memperbaiki negeri ini dengan aksi nyata, melakukan apa yang kita bisa bagi masyarakat kita, sekecil apapun itu. Bagi para pegawai, jadilah pegawai yang jujur dan amanah, berusaha bekerja semaksimal mungkin. Bagi para pemuda, jadilah pemuda yang tekun dalam menuntut ilmu sehingga bisa membantu masyarakat sekitar dengan ilmu yang dimiliki. Bagi para orangtua, jadilah teladan, didiklah putra-putri anda menjadi putra-putri yang shalih dan shalihah.

Kita tidak perlu muluk-muluk. Minimal dengan mendukung dan melaksanakan program-program pemerintah yang ada (yang tidak bertentangan dengan agama), tidak mengacak-acak usaha pembangunan yang dilakukan pemerintah, itu saja sudah cukup memberikan satu langkah perbaikan bagi negeri ini. Kita harus turut andil membangun kepercayaan masyarakat kepada pemerintah, agar pemerintah dan masyarakat bisa kompak dan bekerja sama membangun negeri ini. Kesalahan dan keburukan pemerintah jangan dijadikan sebagai senjata untuk menjatuhkan kewibawaannya.

Padahal, yang paling mudah, sudahkah kita mendoakan pemerintah kita agar menjadi lebih baik? Wah, kita sendiri mungkin jarang mendoakan kebaikan untuk diri kita, apalagi untuk pemerintah. Atau selama ini kita hanya pernah mencaci maki dan mendoakan keburukan untuk pemerintah kita? Mulai hari ini, marilah kita mendoakan agar mereka dapat menjalankan tugasnya dengan baik dan mendapat bimbingan Allah Ta’ala.

Yang terakhir dan yang terpenting, bahwa suatu negeri hanya bisa maju jika Allah “Azza Wa Jalla menurunkan berkah di atasnya. Dan berkah itu hanya bisa didapatkan apabila nilai-nilai di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah diamalakn dalam segala sisi kehidupan kita masing-masing. Jika nilai-nilai ketakwaan ini kita patri dalam diri-diri kita, niscaya negeri ini akan menjadi negeri yang adil dan makmur, yang selalu dinaungi barakah Allah ‘Azza Wa Jalla.

“Jikalau sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami anugerahkan kepada (kehidupan) mereka barakah dari langit dan bumi.” [QS. Al-A’raf:96].

Pembaca yang dirahmati Allah “Azza Wa Jalla…

Janganlah kita hanya sibuk berkomentar dan saling menjatuhkan. Marilah kita semua introspeksi diri-diri kita. Apa saja yang sudah kita berikan bagi lingkungan kita? Apa saja yang sudah kita sumbangkan bagi negeri kita? Dan apa yang sudah kita perjuangkan bagi agama kita? Apabila kita bisa introspeksi diri kita masing-masing, maka akan lahir semangat untuk saling berbagi memberikan yang terbaik bagi orang lain, yang dengannya negeri ini lambat laun akan semakin baik.

Semoga Allah ‘Azza Wa Jalla memudahkan kita menjadikan negeri ini semakin baik di bawah naungan berkah-Nya. Wallahu A’lam Bish Showab.

Majalah Tashfiyah Edisi 11 vol 01 1433H-2011M

Negeri Para Komentator

~ Negeri Para Komentator ~
Membaca surat kabar pada hari-hari belakangan ini sering membuat hati merasa jengah. Mayoritas berita isinya mengabarkan hal buruk yang terjadi di negeri ini. Mulai dari masalah KKN, rebutan kekuasaan, bencana alam, meningkatnya kemiskinan dan kriminalitas, hingga terorisme. Jarang sekali dimuat berita yang menyejukkan hati.

Banyak masalah yang harus dibenahi ini tentu membutuhkan masukan dan solusi dari berbagai pihak. Namun, masukan itu tentunya dari pihak yang memang ahlinya, dengan cara yang santun (baca: sesuai aturan syar’i), bukan dari orang yang hanya asal pandai berbicara dan menkritik. Bak jamur di musim hujan, sayangnya justru orang yang asal pandai menkritik inilah yang semakin hari semakin banyak di negeri ini. Mereka saling mengkritik, bahkan saling menghujat. Semua pendapat dikeluarkan tanpa memikirkan apakah pendapat itu bersifat membangun atau malah merusak. Yang penting bagaimana caranya supaya dirinya bisa disebut sebagai komentator yang ahli.

Menjadi komentator jelas tidak mempunyai beban yang terlalu berat jika dibandingkan dengan menjadi pelaku. Ketika menjadi komentator, seseorang bisa berbicara dengan lugas, tapi ketika menjadi pemikul amanah, tentu tidak mudah melaksanakan tugas-tugasnya. Tak banyak orang yang mau menjadi pelaku, saat sebelumnya dikenal sebagai komentator. Mereka khawatir tidak mampu membuat solusi seperti yang selama ini mereka suarakan.

Para komentator ini bukan hanya mereka yang muncul di televisi, tetapi juga ada hingga level rumah tangga. Kita sering melihat orangtua yang menasihati anaknya agar rajin belajar dan shalat tepat waktu, namun dianya sendiri mengabaikan suara adzan dan malah asyik menonton televisi dengan suara keras ketika anaknya sedang belajar di malam hari.

Ya, inilah suasana Indonesia sekarang, negeri para komentator, negeri yang memiliki banyak orang yang pintar berbicara tetapi jarang bertindak memberikan solusi yang nyata.

======================

Pembaca yang dirahmati Allah ‘Azza Wa Jalla…

Melakukan koreksi dan kritik merupakan hal yang baik apabila itu didasari dengan ilmu dan dengan penyampaian yang tepat. Namun ketika kebanyakannya hanya mengkritik, tentu tidak ada buah yang bisa dipetik. Memang negeri kita saat ini sedang menghadapi berbagai permasalahan yang berat. Namun apakah dengan serapah kita dapat menyelesaikan masalah ?

Coba lihat kondisi sekarang. Semua pihak saling bersuara menuntut pemerintah harus bertanggung jawab atas semua masalah ini. Demonstrasi-demonstrasi pun digelar dengan agenda yang sama:

Pemerintah ini tidak tegas! Tidak becus dalam mengurusi negara! Ganti pemimpin sekarang juga!

Wah, ide mengganti pemerintah? Masyarakat kita sudah terlalu capek gonta-ganti pemerintah. Sengketa pilkada saja sudah merugikan semua pihak. Mengganti pemerintahan jelas tidak akan menyelesaikan masalah.

Lalu apa yang bisa kita lakukan bagi negeri ini?

Pembaca yang dirahmati Allah...

Kita bisa memperbaiki negeri ini dengan aksi nyata, melakukan apa yang kita bisa bagi masyarakat kita, sekecil apapun itu. Bagi para pegawai, jadilah pegawai yang jujur dan amanah, berusaha bekerja semaksimal mungkin. Bagi para pemuda, jadilah pemuda yang tekun dalam menuntut ilmu sehingga bisa membantu masyarakat sekitar dengan ilmu yang dimiliki. Bagi para orangtua, jadilah teladan, didiklah putra-putri anda menjadi putra-putri yang shalih dan shalihah.

Kita tidak perlu muluk-muluk. Minimal dengan mendukung dan melaksanakan program-program pemerintah yang ada (yang tidak bertentangan dengan agama), tidak mengacak-acak usaha pembangunan yang dilakukan pemerintah, itu saja sudah cukup memberikan satu langkah perbaikan bagi negeri ini. Kita harus turut andil membangun kepercayaan masyarakat kepada pemerintah, agar pemerintah dan masyarakat bisa kompak dan bekerja sama membangun negeri ini. Kesalahan dan keburukan pemerintah jangan dijadikan sebagai senjata untuk menjatuhkan kewibawaannya.

Padahal, yang paling mudah, sudahkah kita mendoakan pemerintah kita agar menjadi lebih baik? Wah, kita sendiri mungkin jarang mendoakan kebaikan untuk diri kita, apalagi untuk pemerintah. Atau selama ini kita hanya pernah mencaci maki dan mendoakan keburukan untuk pemerintah kita? Mulai hari ini, marilah kita mendoakan agar mereka dapat menjalankan tugasnya dengan baik dan mendapat bimbingan Allah Ta’ala.

Yang terakhir dan yang terpenting, bahwa suatu negeri hanya bisa maju jika Allah “Azza Wa Jalla menurunkan berkah di atasnya. Dan berkah itu hanya bisa didapatkan apabila nilai-nilai di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah diamalakn dalam segala sisi kehidupan kita masing-masing. Jika nilai-nilai ketakwaan ini kita patri dalam diri-diri kita, niscaya negeri ini akan menjadi negeri yang adil dan makmur, yang selalu dinaungi barakah Allah ‘Azza Wa Jalla.

“Jikalau sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami anugerahkan kepada (kehidupan) mereka barakah dari langit dan bumi.” [QS. Al-A’raf:96].

Pembaca yang dirahmati Allah “Azza Wa Jalla…

Janganlah kita hanya sibuk berkomentar dan saling menjatuhkan. Marilah kita semua introspeksi diri-diri kita. Apa saja yang sudah kita berikan bagi lingkungan kita? Apa saja yang sudah kita sumbangkan bagi negeri kita? Dan apa yang sudah kita perjuangkan bagi agama kita? Apabila kita bisa introspeksi diri kita masing-masing, maka akan lahir semangat untuk saling berbagi memberikan yang terbaik bagi orang lain, yang dengannya negeri ini lambat laun akan semakin baik.

Semoga Allah ‘Azza Wa Jalla memudahkan kita menjadikan negeri ini semakin baik di bawah naungan berkah-Nya. Wallahu A’lam Bish Showab.

Majalah Tashfiyah Edisi 11 vol 01 1433H-2011M

Tidak ada komentar