Minggu, 24 September 2017

KAJIAN ISLAM ILMIAH "INDAHNYA ISLAM"

08.55.00




بسم الله الرحمن الرحيم
Hadirilah, Kajian Islam Ilmiah Ahlus Sunnah wal Jamaah, dengan tema:
“INDAHNYA ISLAM”
Bersama Al Ustadz Abu Hamzah Kaswa, hafidzohullah
🌴 KAJIAN UMUM (PUTRA & PUTRI)
🗓 Waktu: Ahad, 11 Muharram 1439 H (1 Oktober 2017 M)
🕌 Tempat: Masjid Abdurrahman bin Auf, Nogosari, Boyolali

Kontak Person
📲 081567770819/ 081586659587

=========
Diselenggarakan oleh:
Panitia Kajian Islam Nogosari | Takmir Masjid Abdurrahman bin Auf | Forum Dakwah Salafiyyah Boyolali

Didukung oleh:
Radio Islam Indonesia & Radio Rasyid

Selengkapnya

Senin, 17 Juli 2017

KAJIAN ISLAM ILMIAH AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH “ASY-SYARI’AH” KE-14 TAHUN 1438 H / 2017 M

14.27.00


KAJIAN ISLAM ILMIAH AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH “ASY-SYARI’AH” KE-14 TAHUN 1438 H / 2017 M
~~~~~~~~
بسم الله الرحمن الرحيم
🌅 Insya Allah akan segera hadir kembali, Kajian Islam Ilmiah Ahlus Sunnah wal Jamaah yang ke-14 tahun 1438 H /2017 M, dengan tema:
🌏🗺 “STABILITAS BANGSA & NEGARA TANGGUNG JAWAB BERSAMA”
Bersama para masyayikh Ahlus Sunnah wal Jamaah dari Timur Tengah:
1⃣ Asy-Syaikh Dr. Khalid azh-Zhafiri (Kuwait)
2⃣ Asy-Syaikh Dr. Muhammad Ghaleb (Yaman)
3⃣ Asy-Syaikh Usamah bin Saud al-Amri, MA (Arab Saudi)
4⃣ Asy-Syaikh Hamed Khamis al-Junaibi (Uni Emirat Arab)
5⃣ Asy-Syaikh Dr. Hisyam al-Hausani (Uni Emirat Arab)
🎗 KAJIAN KHUSUS ASATIDZAH
🗓 Waktu: Senin—Jumat, 30 Syawwal—4 Dzulqa’dah 1438 H (24—28 Juli 2017 M)
🏘 Tempat: MA’HAD AL-ANSHAR, Sleman
📞 Kontak Person
📲 081328022770
📲 081328078414
🌴 KAJIAN UMUM (PUTRA)
🗓 Waktu: Sabtu—Ahad, 5—6 Dzulqa’dah 1438 H (29—30 Juli 2017 M)
🕌 Tempat: JAKARTA ISLAMIC CENTER, Tugu Utara, Koja, Kota Jakarta Utara, DKI Jakarta
☎ Kontak Person
📲 085319732909
📲 081513978370
📲 08129394826
===================
🎙 TABLIGH AKBAR
📆 Hari: Sabtu, 5 Dzulqa’dah 1438 H (29 Juli 2017 M)
Waktu: 09.00 – 14.00 WIB
🕌 Tempat: MASJID AGUNG MANUNGGAL BANTUL
📱 Kontak Person
085100453237
===================
Panitia Kajian Islam Ilmiah Ahlus Sunnah wal Jamaah Ke-14
¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤
🌅📚 Channel Daurah Nasional “asy-Syari’ah” Ahlus Sunnah wal Jama’ah
▶ https://telegram.me/daurahnasional
💻 Situs Resmi http://daurahnasional.com

Selengkapnya

Selasa, 21 Februari 2017

Prioritas Pembenahan Aqidah

06.00.00

Prioritas Pembenahan Aqidah


Sungguh kita tengah berada dalam arena fitnah yang berkepanjangan. Negeri yang aman kini telah berubah bentuk menjadi negeri yang mencekam dan menakutkan. Kolusi, korupsi, dan nepotisme menjadi bagian penting dalam tubuh para penegak dan penduduknya. Krisis politik, sosial, dan perekonomian terus menggoyang keutuhan negeri ini, diwarnai dengan kerusuhan, keributan, dan demonstrasi yang tak henti-hentinya. Bersamaan dengan itu, semua dekadensi moral, akhlaq, dan aqidah anak-anak bangsa telah mencapai klimaksnya, kewibawaan bangsa dan umat Islam pun yang mayoritas penduduknya lenyap, kehilangan keseimbangannya di tengah-tengah gempuran tekanan kaum kuffar. Quo Vadis bangsa Indonesia??
Para pembaca -semoga dirahmati Allah-, amat disayangkan fenomena yang seperti ini disikapi oleh sebagian kaum dengan penuh emosi, hawa nafsu, dan arogansi sehingga bukan menghentikan krisis dan memadamkan api fitnah tetapi justru membuka pintu krisis baru dan menyalakan api fitnah yang kian membara. Mulai dari orasi-orasi di atas mimbar dalam rangka agitasi politik dengan memakai label penjagaan Islam, memompa semangat nasionalisme dengan memakai cap proteksi akan degradasi bangsa dan umat Islam, melawan dan memberontak penguasa / pemerintah dengan judul amar ma'ruf nahi mungkar, bahkan mengkafirkan kaum muslimin dengan alasan al wala' wal bara', hingga aksi pengeboman di berbagai tempat secara serempak dengan mengatasnamakan jihad. Wa ilallahil musytaka.
Hendaknya para pemimpin negara mengetahui kadar pemerintahan dan mengetahui akan tinggi kedudukannya, sesungguhnya pemerintahan itu adalah nikmat di antara nikmat-nikmat Allah ta'ala, barangsiapa yang menegakkannya dengan baik sesuai tuntutan-tuntutannya akan mendapatkan kebahagiaan yang tiada taranya, sebaliknya jika tidak mengerti ukuran nikmat ini kemudian menyibukkan diri dengan kezholiman dan hawa nafsunya, dikhawatirkan akan tergolong pada sebagian musuh-musuh Allah. Pemimpin negara semestinya untuk tidak mengharap keridhoan seorang manusia di atas kebencian Allah disebabkan karena penyelisihan terhadap syari'at, harus dimengerti bahwa baiknya rakyat tergantung pada baiknya perjalanan penguasa. Satu hal lagi yang mesti diingatkan di sini bahwa sudah seyogyanya bagi para pemimpin negara untuk menegakkan amar ma'ruf nahi mungkar sesuai tuntunan syari'at, menutup pintu-pintu kejahatan dan kerusakan, serta melindungi negara dan rakyat dari kejahatan kaum kuffar dan orang-orang yang berniat jahat. Apabila ini semua telah terpenuhi maka kantong amalannya pemerintah sebanding dengan pahala seluruh ibadah rakyat negerinya. Ketika itu negeripun akan makmur dipenuhi dengan ketentraman dan keselamatan serta berkah dalam rizki dan kebutuhan-kebutuhan hidup.
Para pembaca -semoga dirahmati Allah-, adapun rakyat, maka hendaknya menunaikan hak-haknya terhadap pemerintah di antaranya berupa taat dan mendengar pada setiap apa yang diperintah dan dilarangnya kecuali yang bersifat maksiat, ini adalah hak dan kewajiban yang paling besar terhadap pemerintah. Sebab ketaatan merupakan landasan yang kokoh dalam me-manage urusan-urusan negara dan rakyat. Pemerintah dan para pejabat adalah manusia biasa dimana mereka masih membutuhkan nasehat orang-orang yang ikhlas dan bimbingan orang-orang yang bertaqwa. Tugas yang mulia ini dipikul di atas pundak para ulama, merekalah yang melaksanakannya, kepada para ulama Islam serta da'i-da'inya yang ikhlas agar menegakkan apa yang Allah telah wajibkan atas mereka dari menerangkan yang haq, mengingatkannya dan mengarahkan waliyul amri / pemerintah kepada yang ma'ruf serta membantu mereka akan hal itu, mencegah mereka dari yang munkar, memperingatkannya, serta menjelaskan akan keburukan akibatnya dan bahayanya pada umat cepat maupun lambat, bukan malah menjadi pemicu terjadinya fitnah dan kekacauan atau malah berpangku tangan pura-pura tidak tahu dan tidak ada kepedulian akan perbaikan umat, bangsa, dan negara. Kemungkaran yang merajalela dan kerusakan yang tak dapat dibendung serta carut-marutnya wajah bangsa adalah sebah-sebab datangnya musibah dan turunnya adzab. Allah berfirman, "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut karena perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar." (QS Ar Rum: 41).
Sesungguhnya kehinaan dan malapetaka yang menimpa bangsa ini adalah ketika bangsa ini menghendaki kemuliaan bukan dari Islam, ketika para penguasa dan rakyatnya meninggalkan agama dan cinta yang berlebihan terhadap dunia, hingga akhirnya Allah menimpakan kehinaan yang tidak ada jalan keluarnya kecuali dengan kembali kepada agama. Sebagaimana hal itu telah dijelaskan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad dalam Musnadnya dan Abu Dawud dalam Sunannya dari sahabat Ibnu Umar radhiyallahu 'anhu. Jika masyarakat dilanda krisis aqidah, akhlaq, dan moral, dilanda krisis ekonomi dan krisis politik yang dilematis, maka pembenahan pertama yang mesti dilakukan ialah pembenahan aqidah dan moral dengan segala kemampuan, sebab memperbaiki masalah yang paling berbahaya adalah hal yang disepakati oleh setiap insan berakal. Ketahuilah bahwa kerusakan yang diakibatkan keyakinan / aqidah manusia dari kesyirikan, khurofat, kebid'ahan, dan kesesatan seribu kali jauh lebih berbahaya daripada kerusakan yang ditimbulkan dari rusaknya hukum / undang-undang dan yang lainnya. Terbukti, ketika Allah mengutus para rosul ke tengah-tengah kaum yang dipenuhi dengan penyimpangan-penyimpangan, aqidah yang rusak, moral yang bejat, pola pikir yang salah, dan sistem hukum yang tak beraturan dan menyalahi syari'at, Allah tidak membebani mereka (para rosul) -pada permulaannya- untuk segera mengadakan pembaharuan sistem dalam keadaan umat dikelilingi dengan penyimpangan moral dan aqidah, tetapi justru langkah awal yang ditempuh oleh para rosul adalah pembenahan aqidah dan moral. Para Nabi dan Rosul tidaklah datang dalam rangka menggulingkan negara dan menegakkan negara yang baru, tidak menginginkan kekuasaan, dan tidak pula membentuk organisasi untuk itu, tetapi mereka datang memberi hidayah kepada manusia dan menyelamatkannya dari kesesatan dan kesyirikan, serta mengeluarkannya dari kegelapan menuju cahaya. Inilah jalan lurus yang Allah telah syari'atkan seluruh para nabi dari yang paling awalnya hingga yang paling akhirnya, dan Dialah Allah Maha Pencipta, Maha Bijaksana, Maha Mengetahui akan tabiat manusia dan apa yang bermaslahat untuk mereka. Allah berfirman, "Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan) dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?" (QS Al Mulk: 14).
Para pembaca -semoga dirahmati Allah- Rosulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mendidik para sahabatnya di atas kitab dan hikmah / sunnah, di atas keimanan, kejujuran, serta tauhid, keikhlasan karena Allah dalam setiap amalan, jauh dari uslub-uslub politik dan dari larut dalam hal jabatan yang tinggi.
Dengan demikian jalan yang harus ditempuh dalam mengembalikan kemuliaan Islam, kaum muslimin, bangsa, dan negara ialah:
Pertama: pembenahan dan pembentukan aqidah dan permuniannya dari kesalahan-kesalahannya.
Kedua: mentarbiyah setiap individu-individu masyarakat dan membangun kepribadiannya di atas landasan hukum-hukum Islam dan adab-adabnya sesuai dengan apa yang telah diwariskan kepada kita dari tiga generasi pertama. Inilah jalan penyelamat dan dari sinilah permulaannya yakni mentarbiyah dengan Islam yang bersih dari khurofat dan bid'ah, dari kesyirikan dengan berbagai macam bentuknya dan dari pola pikir yang bertentangan dengan Kitab dan Sunnah serta metodologi salaful ummah. Wal ilmu indallah.
Ditulis oleh Al Ustadz Abu Hamzah.
sumber: buletin al-wala' wal baro' edisi 17 thn 1

Selengkapnya

Rabu, 15 Februari 2017

Revisi Buletin Asy Syar'i edisi 8

18.11.00

Bismillah
Al afwu minkum. Posting berikut adalah untuk merevisi Buletin Asy Syar'i edisi ke-8 yang diterbitkan oleh Forum Dakwah Salafiyyah Boyolali.

Pada bagian penulis tertulis :
Penulis: ustadz Muhaimin hafidzohulloh

Revisi
Penulis : Redaksi Buletin al Ilmu

Kami selaku tim desain yang menangani penulisan dari buletin Asy Syar'i Boyolali memohon maaf atas terjadinya kesalahan penulisan ini. 

Jazakallohu khoyron katsir

Selengkapnya

Kamis, 17 November 2016

EVOLUSI BID'AH DARI MASA KEMASA

05.06.00


Evolusi Bid'ah dari Masa ke Masa


Para pembawa bendera bid'ah dan kesesatan seakan tak pernah sirna mewarnai kehidupan ini, mereka tak henti-hentinya berganti cerita di hadapan ummat yang minim akan pengetahuan agamanya, kaum awam inilah yang kemudian menjadi sasaran empuk gerombolan para penjahat agama itu bak ladang subur yang siap untuk dibombardir pemikiran-pemikiran dan faham yang bukan berasal dari Islam alias tidak jelas asal-usulnya. Ancaman regenerasi para penjahat agama adalah ancaman yang serius bagi Islam dan muslimin terlebih di era kebodohan ini.
Tidak diragukan bila masa-masa nubuwwah adalah masa kejayaan dan kesempurnaan dimana kebid'ahan dan kesesatan tak lagi ada di hati manusia, bahkan para aktivisnya pun terisolasi tiada daya menahan dahsyatnya gelombang petunjuk yang dibawa oleh Nabi shollallahu 'alaihi wa sallam. Allah berfirman (yang artinya), "Sebenarnya Kami melontarkan yang hak kepada yang batil lalu yang hak itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu lenyap." (QS Al Anbiyaa`: 18).
Semua ini menunjukkan semakin dekatnya satu generasi dari umat ini kepada masa nubuwwah semakin dekat pula kepada kebenaran, sebaliknya semakin jauh dari masa nubuwwah semakin jauh pula generasinya dari kebenaran. Tepatlah bila Imam Malik mengatakan, "Tidak akan menjadi baik generasi umat yang terakhir ini kecuali dengan apa yang telah menjadikan baik generasi pertamanya." (Lihat At Tamhid - Ibnu Abdil Bar).

BID'AH DARI MASA KE MASA
Bid'ah yang pertama kali lahir di tengah-tengah umat adalah bid'ah khawarij. Khawarij adalah bentuk dari kata "khorij" artinya orang yang keluar. Awal mula munculnya bid'ah ini adalah ketika Nabi shollallahu 'alaihi wa sallam sedang membagi-bagikan harta, tiba-tiba datang seorang laki-laki dari Bani Tamim yang dikenal dengan sebutan Dzul Khuwaisiroh dan berkata, "Berbuat adillah wahai Muhammad!" Kejadian ini menjadi saksi sepanjang sejarah tentang bagaimana pertama keluar dan berpaling dari syariat Islam, dimana Dzul Khuwaisiroh tidak puas dengan keputusan Nabi, akhirnya dia keluar dari ketaatan terhadapnya.
Fitnah yang timbul dari bid'ah ini semakin besar, terutama di masa akhir pemerintahan Utsman rodhiyallahu 'anhu adanya orang-orang yang memberontak dan keluar dari ketaatan terhadapnya, bahkan sampai mengakibatkan beliau terbunuh. Lain lagi ketika Ali rodhiyallahu 'anhu diangkat sebagai khalifah setelah Utsman, mereka mengkafirkan Ali dengan bersenandung yel yel "Tidak ada hukum kecuali hukum Allah". Kalimat yang hak, namun yang diinginkan darinya adalah batil, akhirnya pemerintahan Ali pun memberangus gerakan mereka.
Dari peristiwa-peristiwa ini, maka dikenallah sebutan kelompok Khawarij pengikut Dzul Khuwaisiroh. Pemikiran Khawarij ini terus berkembang selaras dengan berlalunya masa dan bergantinya generasi meski bermetamorfose dalam bentuk dan dalam nama yang lain. Pemikiran Khawarij sampai saat ini ada walau penggagasnya telah tiada.
Yang menjadi ciri khas mewarnai pemikiran Khawarij sepanjang sejarah yang kemudian diusung oleh para reformernya dewasa ini adalah:
1. Takfir - mudah mengkafir-kafirkan kaum muslimin, apalagi yang tidak seideologi dengannya - padahal ini adalah perkara yang berbahaya, pengkafiran adalah hak prerogatif Allah dan RosulNya, tidak bisa mengatakan si fulan kafir kecuali bila terpenuhi syarat-syaratnya dan hilangnya hal-hal yang mencegahnya untuk dikafirkan.
2. Memberontak atau keluar dari ketaatan (secara mutlak) terhadap penguasa muslim yang tidak berhukum dengan hukum Allah, kemudian mengkafirkannya (secara mutlak) dan mengkafirkan orang-orang yang berada di bawah kekuasaan penguasa tersebut.
Pemberontakan yang ditempuhnya melalui dua sektor. Sektor pemikiran yakni teror pemikiran, menyebarkan fikrah Khawarij dengan cara yang diplomatis. Sasaran utamanya adalah para pemuda, karena mereka sangat rentan untuk disulut semangatnya, menumbuhkan kebencian kepada pemerintah yang sah, semangat revolusi, pendirian daulah Islamiyyah, dan lain-lain. Yang keduanya lewat sektor fisik, yakni teror fisik, di antaranya dengan membuat kekacauan dengan gaya-gaya irhabi (terorisme), merusak instalasi-instalasi milik pemerintah, pengeboman di sejumlah tempat - tak peduli meski kaum muslimin yang menjadi korban, memanfaatkan instabilitas pemerintahan, dan seterusnya.

Salah seorang tokoh reformer faham Khawarij adalah Sayyid Qutb, banyak kalangan aktivis Islam saat ini yang terpengaruh dengan fahamnya, lewat doktrin-doktrin yang sangat tajam dari sejumlah karya dan tulisan-tulisannya yang mengarah kepada pengkafiran secara umum (tanpa memerinci) terhadap semua orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah, ia mengatakan, "Sesungguhnya siapa yang mentaati manusia dalam undang-undang yang dibuatnya sendiri -biarpun pada sebagian kecilnya- maka dia telah musyrik! Dan kalaupun pada asalnya muslim, jika dia melakukannya (taat terhadap undang-undang itu) maka dia telah keluar dari Islam menuju kesyirikan pula, sekalipun setelah itu ia tetap mengatakan "Asyhadu allaa ilaaha illallaah" (Fi Zhilalil Qur`an: 3/1198).
Yang benar tentu tidak demikian, telah diketahui secara umum bahwa siapa yang mentaati seorang musyrik, yakin dan membenarkan segala ucapannya, maka dia musyrik. Adapun taat dalam hal perbuatan saja sedang keyakinannya / aqidahnya lurus, maka ini kemaksiatan bukan kesyirikan.
Tidak ragu bahwasanya hukum hanyalah milik Allah saja, inilah yang menjadi aqidah dan agama kita. Akan tetapi Allah jadikan waliyyul amri / penguasa bagi kaum muslimin yang akan mengayomi kemaslahatan-kemaslahatannya, mengharuskan taat kepada mereka dalam hal yang ma'ruf. Allah berfirman (yang artinya), "Hai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah (RosulNya) dan ulil amri di antara kamu." (QS An Nisaa`: 59).
Pada halaman lainnya ia (Sayyid Qutb) berkata, "Semoga engkau jelas dari apa yang telah kami sisipkan tadi, bahwa jihad yang utama di dalam Islam adalah menghancurkan sistem undang-undang yang bertentangan dengan sumbernya, kemudian menegakkan hukum yang dibangun di atas kaidah Islam pada tempatnya. Inilah tugas utama mengadakan revolusi Islam secara umum / serempak." (Zhilaalul Qur`an: 3/1451).
Ucapannya ini jelas-jelas provokasi yang mengarah kepada pemberontakan dan penggulingan suatu pemerintahan, tentu bagi orang yang berakal tidak akan luput apa akibat dari ini semua?! Sejarah Islam menjadi bukti dan apa yang ada / terlihat di sekitar kita ikut pula menjadi bukti, bahwa akhir dari sebuah revolusi pemberontakan adalah fitnah, fitnah yang semakin besar.
Makanya para ulama dari dulu telah mewanti-wanti akan bahayanya pemberontakan ini, Al Imam Ahmad bin Hanbal berkata, "Tidak dihalalkan memerangi penguasa tidak pula memberontak padanya karena seruan seseorang, siapa yang melakukan hal itu, maka ia seorang mubtadi' (ahli bid'ah) tidak berjalan di atas sunnah dan petunjuk." (Syarh Ushul I'tiqod Ahlussunnah wal Jama'ah 1/181). Al Imam Nawawi berkata, "Adapun memberontak dan memerangi mereka (penguasa), maka haram dengan kesepakatan kaum muslimin, meskipun mereka fasiq, zhalim. Telah banyak hadits-hadits yang semakna dengan apa yang kusebutkan, serta ahlus sunnah bersepakat tentang tidak bolehnya melepaskan ketaatan kepada penguasa karena kefasikan." (Syarh Shohih Muslim: 12/229).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, "Hampir setiap orang yang memberontak kepada pemimpin yang memiliki kekuasaan, melainkan hasil dari pemberontakannya itu adalah kerusakan yang lebih besar daripada kebaikannya, seperti pemberontakan yang terjadi pada pemerintahan Yazid bin Mu'awiyah di Madinah (dimana bala tentaranya Yazid menyikat habis para pemberontaknya, membunuh kaum laki-lakinya dan merenggut kehormatan wanita-wanitanya... dan seterusnya), pemberontakan Ibnul Asy'ats pada pemerintahan Abdul Malik di Irak (dan sejumlah pemberontakan-pemberontakan lainnya, -pent.) (Lihat Minhajus Sunnah: 4/527-528).
Berkata Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin, "Sesungguhnya kejelekan tidak akan mendatangkan kebaikan dan wasilah yang jelek tidak akan pernah menjadi jalan perbaikan selama-lamanya..." (Dari At Tahdzir minat Tasarru' fit Takfir: 48).
Para pembaca, demikian itulah selayang pandang ikhwal Khawarij kelompok pertama yang menyimpang dari Islam, bahaya gerakannya akan terus mengancam kaum muslimin, sangat sedikit pemerintahan yang muslim yang selamat dari pengkafirannya.

Kemudian di masa-masa akhir generasi para shahabat, muncullah bid'ah yang baru setelah Khawarij, yakni bid'ah indeterminisme (Qodariyyah) yang dijuluki dengan Majusi umat ini. Abdullah ibnu Umar, Ubadah bin Shamit, Jabir bin Abdillah, Abdullah ibnu Abi Aufa dan sejumlah sahabat lainnya menjumpai mereka.
Orang yang mula-mula berbicara dengan bid'ah Qodariyyah ini adalah Ma'bad Al Juhaniy. Diriwayatkan dari Muhammad bin Syu'aib dari Al Auza'i bahwa yang pertama kali membawa bid'ah Qodariyyah ini adalah seorang laki-laki dari penduduk Irak yang dipanggil dengan nama "Susan", ia seorang Nasrani lalu masuk Islam kemudian kembali jadi Nasrani. Ma'bad Al Juhaniy mengambil bid'ah ini darinya.
Ia (Ma'bad Al Juhaniy) dan para dedengkotnya mengatakan perbuatan-perbuatan hamba tidak diketahui oleh Allah, tidak tertulis di Lauhul Mahfuzh dan Allah tidak mengetahui apa yang akan diperbuat hamba kecuali bila telah terjadi perbuatan itu. Adapun para pengikut-pengikutnya yang muncul belakangan ini, menjadi aktor gerakannya, mereka mengatakan bahwa Allah subhanahu wa ta'ala tidak mentakdirkan perbuatan-perbuatan hamba dan tidak di bawah kehendakNya, tidak pula perbuatan hamba diciptakan oleh Allah. (Lihat Al Farqu bainal Firaq: 19, Syarh Al Aqidah Al Wasithiyyah: 448).
Adapun bedanya antara para penggagasnya, pendahulunya dengan para reformisnya dewasa ini adalah kalau pendahulunya mereka mengingkari ilmu Allah dan penulisan taqdir di Lauhul Mahfuzh, sedang para reformisnya mengakui ilmu Allah dan penulisan taqdir, namun mengingkari kehendak bagi Allah dan mengingkari kalau perbuatan hamba itu diciptakan Allah -alias makhluk bagi Allah- demikian itulah kelompok Qodariyyah dulu dan sekarang, dulu di kandang singa sekarang terperangkap di kandang serigala.
Abdullah ibnu Umar dan para sahabat lainnya yang menyaksikan dan mengetahui bid'ahnya Qodariyyah, mereka berlepas diri darinya dan memperingatkan ummat dari kesesatannya, mewasiatkan agar jangan menyolati jenazah seorang pun dari mereka, dan jangan menjenguk yang sakitnya dari kalangan mereka. (Al Farqu bainal Firaq: 18-20).
Sikap tegas para sahabat dalam membendung lajunya gerakan bid'ah Qodariyyah ini sangat nampak, mereka para pionir dalam membela Al Haq dan melumatkan kebatilan untuk kemudian menjadi contoh bagi generasi kita dalam hal ini, mereka tak mengenal basa-basi dalam menegakkan Al Haq, sepatutnya menjadi teladan generasi kita yang kebanyakan terbawa perasaan dan suka yang basi-basi.
Nampaknya nilai sikap tegas dari setiap kebatilan itu menjadi ideologi yang baku. Inilah beliau Ibnu Umar, tatkala beliau mendengar adanya sekelompok orang yang berpemahaman Qodariyyah, dengan lugasnya ia berkata, "Sampaikan kepada mereka, bahwa aku berlepas diri dari mereka, dan mereka pun berlepas diri dariku. Demi Allah, jika salah seorang dari mereka berinfaq dengan emas sebesar gunung Uhud, niscaya hal itu tidak bermanfaat bagi mereka hingga beriman dengan taqdir." (HR Muslim Abu Daud dan lainnya).
Insya Allah bersambung...

Ditulis oleh Abu Hamzah Al Atsary.


Selengkapnya

Jumat, 28 Oktober 2016

Zikir-zikir Pagi dan Petang

20.09.00


Al-Ustadz Idral Harits
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ ذِكۡرٗا كَثِيرٗا ٤١ وَسَبِّحُوهُ بُكۡرَةٗ وَأَصِيلًا ٤٢
Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nyapada waktu pagi dan petang.” (al-Ahzab: 41—42)
Allah subhanahu wa ta’ala memerintah kaum mukminin agar banyak-banyak mengingat-Nya dengan membaca tahlil, tahmid, tasbih, takbir, dan ucapan lain yang mendekatkan diri kepada Allah. Minimalnya, seorang mukmin selalu membaca zikir pada pagi dan petang, seusai shalat fardhu, dan ketika ada sebab atau ada sesuatu yang mengenainya. Seharusnya dia tetap berzikir, setiap saat, dalam setiap keadaan.
Sesungguhnya zikir adalah ibadah yang membuat pelakunya menjadi yang terdepan, dalam keadaan ia beristirahat (tidak melakukan aktivitas). Zikir juga mengajaknya mencintai Allah dan mengenal-Nya, menjadi bekal kebaikan, dan menahan lisannya dari ucapan yang buruk.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
وَسَبِّحُوهُ بُكۡرَةٗ وَأَصِيلًا
“Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang,” yakni pada permulaan dan penghujung hari, disebabkan keutamaan kedua waktu ini dan mudahnya zikir dikerjakan pada waktu-waktu tersebut.
Selain itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam pernah bersabda,
كُلُّ سُلَامَى مِنَ النَّاسِ عَلَيْهِ صَدَقَةٌ
Setiap persendian manusia itu ada kewajiban sedekahnya.[1]
Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah berkata, “Secara lahiriah, hadits ini menunjukkan bahwa rasa syukur dengan mengerjakan sedekah ini wajib atas setiap muslim, setiap hari….”[2]
Sungguh, terlalu banyak kesenangan yang telah dilimpahkan oleh Allah k kepada kita. Kenikmatan yang ada di sebagian tubuh kita, yaitu jari-jemari tangan kita, tidak mampu kita menghitungnya, apalagi mensyukurinya secara sempurna. Di sisi lain, karunia yang diberikan kepada kita ini sering kita kufuri, dalam wujud amalan yang sia-sia sampai pada perbuatan dosa. Wallahul musta’an.
Oleh sebab itu, dengan penuh kesadaran, kita kembali datang menghadap kepada Allah, mengakui kelemahan dan kesalahan kita. Selain itu, kita memperbaiki diri dengan memperbanyak amalan yang semoga dapat menutupi kesalahan yang ada.
Pada beberapa edisi yang lalu telah kami uraikan makna sebagian bacaan zikir yang selalu kita amalkan. Pada edisi ini, akan kami uraikan bacaan zikir yang disebutkan dalam hadits di bawah ini.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda,
مَنْ قَالَ إذَا أَصْبَحَ: رَضِيتُ بِاللهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا؛ فَأَنَا الزَّعِيمُ لَآخُذَنَّ بِيَدِهِ حَتَّى أُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ
Siapa yang pada pagi hari mengucapkan, ‘Aku ridha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad(shallallahu ‘alaihi wassalam) sebagai nabiaku menjamin bahwa aku sungguh akan memegang tangannya sampai memasukkannya ke surga.[3]
Ungkapan dalam hadits di atas adalah salah satu bacaan zikir yang dianjurkan untuk dibaca setiap hari. Sebagian ulama memasukkannya dalam bab zikir pagi dan sore. Akan tetapi, sebagaimana terlihat di sini, bacaan ini dibatasi hanya pada waktu pagi. Wallahu a’lam.
Makna Hadits
Perkataan beliau,رَضِيتُ بِاللهِ رَبًّا (Aku ridha Allah sebagai Rabb).
Rabb, secara mutlak (bebas; tidak dikaitkan dengan kata lain), adalah salah satu nama di antara nama-nama Allah yang Mahaindah (Asmaul Husna).
Nama Allah subhanahu wa ta’ala ini menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala memiliki sifat rububiyyah, yaitu bahwa Allah subhanahu wa ta’ala adalah Murabbi (Yang Mencipta, Memelihara, Memberi rezeki, dan Mengatur) semua yang ada di alam ini.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surat al-Fatihah,
ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.”
Ayat ini adalah pujian bagi Allah subhanahu wa ta’ala, sekaligus penjelasan bahwa Allah satu-satunya yang menciptakan dan mengatur alam semesta ini serta memberikan kenikmatan. Ayat ini juga menunjukkan kesempurnaan sifat Mahakaya-Nya, yakni Dia tidak bergantung dan tidak berhajat kepada makhluk-Nya dari sisi mana pun. Justru makhluk-Nya yang bergantung kepada-Nya dan sangat memerlukan bantuan-Nya demi kelangsungan dan keberadaan mereka.
Sabda beliau,وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا (Islam sebagai agama).
Islam secara umum adalah agama yang dibawa oleh para nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam pengertian ini, Islam adalah penyerahan diri secara total kepada Allah satu-satunya dengan menauhidkan-Nya, tunduk kepada-Nya dengan menjalankan semua ketaatan, dan berlepas diri/menjauh dari kesyirikan dan para pengusungnya. Dengan demikian, orang-orang yang beriman dan mengikuti para nabi sebelum Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah muslim.
Adapun dalam pengertian khusus, Islam adalah ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam . Agama ini menutup dan menghapus ajaran para nabi sebelum beliau.
Kata din bisa bermakna amal atau ibadah (seperti doa dan lain-lain), dan bisa bermakna balasan atau ganjaran (pahala atau siksa). Di sini, din bisa juga diartikan sebagai keyakinan atau ketundukan.
Meridhai Islam sebagai agama artinya ridha terhadap semua hukum, perintah, dan larangan yang ada di dalam Islam, baik diwujudkan dalam bentuk keyakinan maupun dalam bentuk sikap yang menampakkan ketundukan.
Wallahu alam.
Sabda beliau, وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا (dan Muhammad [shallallahu ‘alaihi wa sallam] sebagai nabi).
Meridhai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam sebagai nabi artinya mengimani bahwa beliau adalah nabi yang membawa risalah dari Allah subhanahu wa ta’ala kepada seluruh umat manusia. Adapun meridhai sesuatu artinya merasa puas dan cukup dengan sesuatu tersebut.
Wallahu a’lam.
Keutamaannya
Sebagaimana hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. lainnya, kalimat ini sudah tentu memiliki keutamaan. Selain itu, kita harus meyakini bahwa ganjaran akan diperoleh dengan mengucapkan kalimat ini.
Dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda,
ذَاقَ طَعْمَ الْإِيمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا
Niscaya merasakan manisnya iman, siapa saja yang ridha Allah sebagai Rabb(nya), Islam sebagai agama(nya), dan Muhammad (shallallahu ‘alaihi wa sallamsebagai rasul(nya).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam juga bersabda,
مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ: رَضِيتُ بِاللهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا؛ غُفِرَتْ لَهُ ذُنُوبُهُ
Siapa yang ketika mendengar azan mengucapkan, ‘Aku ridha Allah sebagai Rabb(ku), Islam sebagai agama(ku), dan Muhammad (shallallahu ‘alaihi wa sallam) sebagai rasul(ku), niscaya dosa-dosanya diampuni.
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
مَنْ قَالَ: رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلاَمِ دِيْنًا، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولاً؛ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ
Siapa yang mengucapkan, ‘Aku ridha Allah sebagai Rabb(ku), Islam sebagai agama(ku), dan Muhammad (shallallahu ‘alaihi wa sallam) sebagai rasul(ku), niscaya dia masuk surga.[4]
Alangkah agungnya kalimat ini. Di dalamnya tersirat pengakuan terhadap rububiyyah Allah subhanahu wa ta’ala . Artinya, orang yang mengucapkan kalimat ini meyakini bahwa Allah subhanahu wa ta’ala adalah satu-satunya Dzat yang menciptakan alam semesta, Maha Memberi rezeki, Maha Menguasai, dan Maha Mengatur semua urusan.
Kandungannya
Sudah tentu, keyakinan yang mendorong adanya pengakuan ini menuntut orang yang mengucapkannya untuk juga mengakui bahwa Allah subhanahu wa ta’ala adalah satu-satunya Dzat yang berhak menerima semua bentuk ibadah.
Artinya, orang yang mengucapkan pengakuan ridha Allah sebagai Rabb tidak akan berdoa agar keperluannya terpenuhi, kecuali kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Dia tidak akan menyandarkan nasibnya kecuali kepada Allah subhanahu wa ta’ala . Dia tidak akan meminta pertolongan, apakah untuk mendapatkan manfaat (istianah) atau untuk menolak mafsadah (istighatsah), kecuali kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Orang yang ridha Allah sebagai Rabbnya tidak akan mengharapkan rezeki selain dari sisi Allah. Dia tidak akan menyembelih sesuatu kecuali untuk Allah subhanahu wa ta’ala . Dia tidak akan bernazar kecuali untuk Allah subhanahu wa ta’ala. Dia juga tidak akan meminta syafaat kecuali kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Dalam riwayat di atas disebutkan bahwa kalimat ini menjadi sebab seseorang merasakan manis dan lezatnya keimanan. Hati dan jiwanya tenteram karena sangat mengenal Allah. Dadanya pun lapang. Tidak ada kekhawatiran dalam hatinya menghadapi keadaan yang ada di depannya. Tidak pula dia merasa sedih dengan apa yang sudah dilaluinya.
Dia merasakan ketenangan dan kelezatan dalam menjalankan semua ketaatan yang diperintahkan oleh Allah. Dia juga merasakan alangkah manis dan lezatnya jauh dari kemaksiatan.
Pada tahap berikutnya, orang yang menyatakan ridha Allah sebagai Rabbnya tentu akan menjadikan semua yang datang dari Allah sebagai aturan hidupnya. Dia tidak mempunyai pilihan tempat bersandar, selain Allah. Dia tidak berharap kecuali kepada Allah. Rasa takutnya (khauf dan khasyyah) hanya kepada Allah, dan pasrahnya pun hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Orang yang ridha Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam sebagai nabi atau rasul tentu akan tunduk mengikuti ajaran beliau. Dia tidak akan mengambil jalan untuk mendekat kepada Allah, kecuali jalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia juga tidak akan menyelisihi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Demikian pula orang yang meridhai Islam sebagai agamanya. Semua aturan yang ada dalam Islam adalah pilihannya. Dia tidak akan memilih agama selain Islam sebagai pedomannya. Dia merasakan ketenangan dan kelezatan mengikuti syariat Islam dan mengamalkannya.
Alhasil, mereka yang benar-benar meyakini kandungan kalimat ini tidak akan merasa berat mengerjakan hal-hal yang wajib atau menekuni amalan-amalan sunnah. Dia tidak merasa terbebani ketika berzikir setiap saat, membaca al-Qur’an, dan melihat mushaf. Tidak sulit pula baginya membenci perbuatan maksiat dan menjauhi atau menghentikannya. Hatinya terasa ringan menolak semua yang berbau maksiat.
Renungan
Mari kita buka lembaran sejarah.
Ribuan tahun sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam dilahirkan….
Di tanah Makkah yang sunyi dan kering…. Tiada tumbuhan dan air. Tiada pula manusia yang mendiami.
Di sebuah tempat, yang di sana akan didirikan Ka’bah, Baitullah yang pertama di muka bumi….
Kekasih yang sangat disayang oleh Allah subhanahu wa ta’ala, hamba-Nya yang terpilih, Ibrahim ‘alaihissalam, dengan berbekal wahyu, membawa istrinya, Hajar, ibunda Isma’il, nenek moyang bangsa Arab, meninggalkan Palestina.
Jarak antara Palestina dan Makkah saat itu ditempuh selama satu bulan perjalanan.
Setelah tiba di dekat Baitullah al-Haram, Ibrahim menurunkan bekal dan meninggalkan anak dan istrinya di sana.
Kemudian, Ibrahim berjalan meninggalkan mereka.
Hajar terkejut dan mengejar. Bergegas dia mengiringi langkah Ibrahim sambil bertanya, “Hendak ke mana, hai Ibrahim? Apakah engkau akan meninggalkan kami di sini?”
Berulang pertanyaan itu keluar dari mulut Hajar, tetapi Ibrahim diam tanpa menjawab sepatah kata pun.
Hajar bertanya lagi, “Apakah Allah yang memerintahmu berbuat begini?”
“Ya,” barulah Ibrahim menjawab dengan tegas.
“Kalau begitu, Dia tidak akan menyia-nyiakan kami.”
Allahu akbar.
Seorang wanita dengan bayi mungilnya yang masih mengharapkan belaian sang ayah dan masih bergantung pada air susu sang ibu, tinggal di bumi yang tiada berpenghuni seorang diri?
Kejamkah Ibrahim?
Tentu tidak.
Bagaimana dengan Hajar?
Wanita yang dahulu menjadi pelayan istana Fir’aun, dihadiahkan kepada Sarah, istri Ibrahim, lalu dihadiahkan Sarah kepada Ibrahim dan menjadi istrinya…. Kini, dia harus menjalani kehidupan yang mungkin tidak pernah terlintas dalam angan-angannya.
Subhanallah.
Sambil berjalan, Hajar bertanya, “Kepada siapa engkau meninggalkan kami di sini?”
“Kepada Allah,” jawab Ibrahim.
“Kalau begitu, aku ridha kepada Allah.”
Allah subhanahu wa ta’ala membalas keridhaannya dengan memuliakannya, bahkan menjadikan putranya sebagai nabi dan rasul. Tidak sampai di situ, kemuliaan itu terus bertambah dengan menjadikan salah satu dari keturunan putranya ini menjadi pemuka para nabi dan rasul, bahkan pemimpin anak-anak Adam. Dialah Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam .
Penutup
Kalimat ini sangat mudah diucapkan, tetapi sulit diterapkan, kecuali oleh mereka yang diberi kemudahan/taufik oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
Kata pepatah Arab,
اَلْبَلَايَا تُظْهِرُ جَوَاهِرَ الرِّجَالِ
Ujian dan cobaan akan menampakkan kondisi asli seseorang.”
Betapa sering kita mengira bahwa kita ridha kepada Allah sebagai Rabb. Akan tetapi, setelah mengalami berbagai ujian, tampaklah betapa lemahnya kita dalam masalah ini. Kita lebih mengedepankan ridha makhluk yang semisal dengan kita daripada keridhaan Allah.
Terakhir, perlu kita ingat bahwa keridhaan yang tumbuh di hati seorang hamba tidak lain adalah buah dari keridhaan Allah subhanahu wa ta’ala kepadanya. Sebab, segala sesuatu di alam ini adalah makhluk dan berada dalam kepemilikan Allah. Ketika meridhai seseorang, Allah meletakkan dalam hati orang tersebut keridhaan kepada apa saja yang Dia cintai, lalu dia pun meridhai dan menekuninya. Selanjutnya, Allah pun meridhainya.
Wallahu a’lam.
[1] HR. al-Bukhari no. 2707 dan Muslim no. 1009.
[2] Jamiul Ulum wal Hikam (1/245).
[3] HR. ath-Thabarani no. 838. Al-Haitsami berkata (10/116), “Sanadnya hasan.” Lihat ashShahihah no. 2686.
[4] HR. Muslim no. 1884 dari Abu Sa’id al-Khudri rahimahullah.
Dipublikasikan : Majalah Qonitah https://qonitah.com/zikir-zikir-pagi-dan-petang/

Selengkapnya

Selasa, 25 Oktober 2016

RIBA

05.06.00


RIBA
🔰ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Afifuddin


✏Berikut pembahasan riba dengan seluk-beluknya. Materi ini mungkin terasa berat, karenanya dibutuhkan perhatian yang lebih saat membacanya. Harapan kami, tulisan yang singkat dan padat ini bisa memberi manfaat bagi anda.
💵Pada edisi kali ini akan dibahas secara khusus seputar masalah riba, karena tema ini tergolong paling sulit dalam bab jual beli. Juga karena terlalu banyak praktik riba di kalangan kaum muslimin, khususnya di Indonesia ini.

✍Definisi Riba

✏Secara bahasa, riba berarti bertambah, tumbuh, tinggi, dan naik. Adapun menurut istilah syariat, para fuqaha sangat beragam dalam mendefinisikannya. Sementara definisi yang tepat haruslah bersifat jami’ mani’ (mengumpulkan dan mengeluarkan), yaitu mengumpulkan hal-hal yang termasuk di dalamnya dan mengeluarkan hal-hal yang tidak termasuk darinya.

⏺Definisi paling ringkas dan bagus adalah yang diberikan oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu dalam Syarah Bulughul Maram, bahwa makna riba adalah: “Penambahan pada dua perkara yang diharamkan dalam syariat, adanya tafadhul (penambahan) antara keduanya dengan ganti (bayaran), dan adanya ta`khir (tempo) dalam menerima sesuatu yang disyaratkan qabdh (serah terima di tempat).” (Syarhul Buyu’, hal. 124)

👆Definisi di atas mencakup riba fadhl dan riba nasi`ah. Permasalahan ini insya Allah akan dijelaskan nanti.

🔑Faedah penting:
🚦Setiap jual beli yang diharamkan termasuk dalam kategori riba. Dengan cara seperti ini, dapat diuraikan makna hadits Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:
الرِّبَا ثَلاَثَةٌ وَسَبْعُوْنَ بَابًا
🗝“Riba itu ada 73 pintu.” (HR. Ibnu Majah, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi dalam Shahihul Musnad, 2/42)

⏺Bila setiap sistem jual beli yang terlarang masuk dalam kategori riba, maka akan dengan mudah menghitung hingga bilangan tersebut. Namun bila riba itu hanya ditafsirkan sebagai sistem jual beli yang dinashkan sebagai riba atau karena ada unsur penambahan padanya, maka akan sulit mencapai bilangan di atas. Wallahu a’lam.

📘Madzhab ini dihikayatkan dari sekelompok ulama oleh Al-Imam Muhammad bin Nashr Al-Marwazi rahimahullahu dalam kitab As-Sunnah (hal. 164). Lalu beliau berkata (hal. 173): “Menurut madzhab ini, firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَأَحَلَّ اللهُ الْبَيْعَ
“Dan Allah menghalalkan jual beli.” (Al-Baqarah: 275)
👉memiliki makna umum yang mencakup semua sistem jual beli yang tidak disebut riba. Dan setiap sistem jual beli yang diharamkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَحَرَّمَ الرِّبَا
“Dan Allah mengharamkan riba.” (Al-Baqarah: 275)
🚫Dan setiap sistem jual beli yang diharamkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَحَرَّمَ الرِّبَا
“Dan Allah mengharamkan riba.” (Al-Baqarah: 275)

🔑Juga dihikayatkan oleh As-Subuki dalam Takmilah Al-Majmu’, bahwa madzhab ini disandarkan kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dan ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu.

✍Hal ini juga diuraikan oleh Ibnu Hajar, Al-Imam Ash-Shan’ani, Al-Imam Asy-Syaukani, dan sejumlah ulama lainnya. Madzhab ini shahih dengan dalil-dalil sebagai berikut:
⏺1. Atsar Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Beliau berkata:
لاَ يَصْلُحُ صَفْقَتَانِ فِي صَفْقَةٍ، إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَعَنَ آكِلَ الرِّبَا وَمُوْكِلَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَكَاتِبَهُ
“Tidak boleh ada dua akad dalam satu akad jual beli. Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba, yang memberi makan orang lain dengan riba, dua saksinya, dan pencatatnya.”
(HR. Ibnu Hibban no. 1053, Al-Bazzar dalam Musnad-nya no. 2016 dan Al-Marwazi dalam As-Sunnah (159-161) dengan sanad hasan)

👉Al-Marwazi dalam Sunnah-nya (hal. 166) menyatakan: “Pada ucapan Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu ini ada dalil yang menunjukkan bahwa setiap jual beli yang dilarang adalah riba.”

⏺2. Hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
السَّلَفُ فِي حَبْلِ الْحَبَلَةِ رِبًا

“Salaf (sistem salam) pada hablul habalah adalah riba.”
(HR. An-Nasa`i dengan sanad shahih, semua perawinya tsiqah (terpercaya))

📘Al-Imam As-Sindi dalam Hasyiyatun Nasa‘i (7/313, cetakan Darul Fikr) menjelaskan:

🌴“Sistem salaf (salam) dalam hablul habalah adalah sang pembeli menyerahkan uang (harga barang) kepada seseorang yang mempunyai unta bunting. Sang pembeli berkata: ‘Bila unta ini melahirkan kemudian yang ada di dalam perutnya (janin) telah melahirkan (pula), maka aku beli anaknya darimu dengan harga ini.’ Muamalah seperti ini diserupakan dengan riba sebab hukumnya haram seperti riba, dipandang dari sisi bahwa ini adalah menjual sesuatu yang tidak dimiliki oleh si penjual dan dia tidak mampu untuk menyerahkan barang tersebut. Sehingga ada unsur gharar (penipuan) padanya.”

🚦Hukum Riba

❌Riba dengan segala bentuknya adalah haram dan termasuk dosa besar, dengan dasar Al-Qur`an, As-Sunnah, dan ijma’ ulama.

📜Dalil dari Al-Qur`an di antaranya adalah:
وَأَحَلَّ اللهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا
“Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (Al-Baqarah: 275)

✏Juga dalam firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِيْنَ. فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللهِ وَرَسُوْلِهِ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu.” (Al-Baqarah: 278-279)

📤Dalil dari As-Sunnah di antaranya:

⏺a. Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:
اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوْبِيْقَاتِ -وَمِنْهَا- أَكْلَ الرِّبَا
“Jauhilah tujuh perkara yang menghancurkan –di antaranya– memakan riba.” (Muttafaqun ‘alaih)
⏺b. Hadits Abu Juhaifah radhiyallahu ‘anhu riwayat Al-Bukhari:
لَعَنَ اللهُ آكِلَ الرِّبَا
“Semoga Allah melaknat pemakan riba.”(HR. Al-Bukhari)

🚦Dalam hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan Al-Imam Muslim, yang dilaknat adalah pemakan riba, pemberi riba, penulis dan dua saksinya, lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan:
هُمْ سَوَاءٌ
“Mereka itu sama.”

👉Para ulama sepakat bahwa riba adalah haram dan termasuk dosa besar. Keadaannya seperti yang digambarkan oleh Ibnu Taimiyah rahimahullahu sebagai berikut: “Tidak ada suatu ancaman hukuman atas dosa besar selain syirik yang disebut dalam Al-Qur`an yang lebih dahsyat daripada riba.”

🗳Kesepakatan ini dinukil oleh Al-Mawardi rahimahullahu dan An-Nawawi rahimahullahu dalam Al-Majmu’ (9/294, cetakan Dar Ihya’ At-Turats Al-‘Arabi).

🔑Faedah:
✍Para ulama sepakat bahwa riba adalah haram di negara Islam secara mutlak, antara muslim dengan muslim, muslim dengan kafir dzimmi, muslim dengan kafir harbi.

🔰Mereka berbeda pendapat tentang riba yang terjadi di negeri kafir antara muslim dengan kafir. Pendapat yang rajih tanpa ada keraguan lagi adalah pendapat jumhur yang menyatakan keharamannya secara mutlak dengan keumuman dalil yang tersebut di atas. Yang menyelisihi adalah Abu Hanifah dan dalil yang dipakai adalah lemah. Wallahu a’lam.

✍Para ulama juga berbeda pendapat tentang riba yang terjadi antara orang kafir dengan orang kafir lainnya. Pendapat yang rajih adalah bahwa hal tersebut juga diharamkan atas mereka, sebab orang-orang kafir juga dipanggil untuk melaksanakan hukum-hukum syariat Islam, sebagaimana yang dirajihkan oleh jumhur ulama. Wallahul muwaffiq.
💰Barang-barang yang Terkena Hukum Riba

✍Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيْرُ بِالشَّعِيْرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ، مِثْلاً بِمِثْلٍ، يَدًا بِيَدٍ، فَمَنْ زَادَ أَوِ اسْتَزَادَ فَقَدْ أَرْبَى، اْلآخِذُ وِالْمُعْطِي فِيْهِ سَوَاءٌ
“Emas dengan emas, perak dengan perak, burr dengan burr, sya’ir dengan sya’ir, kurma dengan kurma dan garam dengan garam harus sama (timbangannya), serah terima di tempat (tangan dengan tangan). Barangsiapa menambah atau minta tambah maka dia terjatuh dalam riba, yang mengambil dan yang memberi dalam hal ini adalah sama.” (HR. Muslim)

👉Demikian pula hadits ‘Umar radhiyallahu ‘anhu yang muttafaq ‘alaih dan hadits ‘Ubadah bin Ash-Shamit dalam riwayat Muslim hanya menyebutkan 6 jenis barang yang terkena hukum riba, yaitu:
1. Emas
2. Perak
3. Burr (suatu jenis gandum)
4. Sya’ir (suatu jenis gandum)
5. Kurma
6. Garam
✍Para ulama berbeda pendapat, apakah barang yang terkena riba hanya terbatas pada enam jenis di atas, ataukah barang-barang lain bisa diqiyaskan dengannya?

✏Untuk mengetahui lebih detail masalah ini, perlu diklasifikasikan pembahasan para ulama menjadi dua bagian:
Pertama: kurma, garam, burr, dan sya’ir.

🌴Para ulama berbeda pendapat sebagai berikut:
🔹1. Pendapat Zhahiriyyah, Qatadah, Thawus, ‘Utsman Al-Buthi, dan dihikayatkan dari Masruq dan Asy-Syafi’i, juga dihikayatkan oleh An-Nawawi dari Syi’ah dan Al-Kasani. Ini adalah pendapat Ibnu ‘Aqil Al-Hambali, dikuatkan oleh Ash-Shan’ani dan beliau sandarkan kepada sejumlah ulama peneliti. Dan ini adalah dzahir pembahasan Asy-Syaukani dalam Wablul Ghamam dan As-Sail, serta pendapat ini yang dipilih oleh Asy-Syaikh Muqbil rahimahullahu, Syaikhuna Yahya Al-Hajuri, Syaikhuna Abdurrahman Al-’Adani, dan para masyayikh Yaman lainnya; bahwa riba hanya terjadi pada enam jenis barang ini dan tidak dapat diqiyaskan dengan yang lainnya.

🔹2. Pendapat jumhur ulama, bahwa barang-barang lain dapat diqiyaskan dengan enam barang di atas, bila ‘illat (sebab hukumnya) sama.

✏Kemudian mereka berbeda pendapat mengenai batasan ‘illat-nya sebagai berikut:
⏺a. An-Nakha’i, Az-Zuhri, Ats-Tsauri, Ishaq bin Rahawaih, Al-Hanafiyyah dan pendapat yang masyhur di madzhab Hanabilah bahwa riba itu berlaku pada barang yang ditakar dan atau ditimbang, baik itu sesuatu yang dimakan seperti biji-bijian, gula, lemak, ataupun tidak dimakan seperti besi, kuningan, tembaga, platina, dsb.

Adapun segala sesuatu yang tidak ditimbang atau ditakar maka tidak berlaku hukum riba padanya, seperti buah-buahan karena ia diperjualbelikan dengan sistem bijian.
Sehingga menurut mereka, tidak boleh jual beli besi dengan besi secara tafadhul (beda timbangan), sebab besi termasuk barang yang ditimbang.

Menurut mereka, boleh jual beli 1 pena dengan 2 pena, sebab pena tidak termasuk barang yang ditimbang atau ditakar. Mereka berdalil dengan lafadz yang tersebut dalam sebagian riwayat:
إِلاَّ وَزْنًا بِوَزْنٍ… إِلاَّ كَيْلاً بِكَيْلٍ
“Kecuali timbangan dengan timbangan… kecuali takaran dengan takaran.”
⏺b. Pendapat terbaru Asy-Syafi’i, juga disandarkan oleh An-Nawawi kepada Ahmad bin Hambal, Ibnul Mundzir, dan yang lainnya, bahwa riba itu berlaku pada semua yang dimakan dan yang diminum, baik itu yang ditimbang/ditakar maupun tidak.

Menurut mereka, tidak boleh menjual 1 jeruk dengan 2 jeruk, 1 kg daging dengan 1,5 kg daging. Semua itu termasuk barang yang dimakan. Juga tidak boleh menjual satu gelas jus jeruk dengan dua gelas jus jeruk, sebab itu termasuk barang yang diminum.

⏺c. Pendapat Malik bin Anas rahimahullahu dan dirajihkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullahu, bahwa riba berlaku pada makanan pokok yang dapat disimpan.

⏺d. Pendapat Az-Zuhri dan sejumlah ulama, bahwa riba berlaku pada barang-barang yang warna dan rasanya sama dengan kurma, garam, burr, dan sya’ir.

⏺e. Pendapat Rabi’ah, bahwa riba berlaku pada barang-barang yang dizakati.

⏺f. Pendapat Sa’id bin Al-Musayyib, Asy-Syafi’i dalam pendapat lamanya, satu riwayat dari Ahmad, dan yang dipilih oleh Ibnu Qudamah, Ibnu Taimiyyah, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, Al-Lajnah Ad-Da`imah yang diketuai Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin Baz, wakilnya Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz Alu Syaikh, anggota: Asy-Syaikh Shalih Fauzan, Asy-Syaikh Bakr Abu Zaid, mereka berpendapat bahwa riba berlaku pada setiap barang yang dimakan dan diminum yang ditakar atau ditimbang.

👉Sehingga segala sesuatu yang tidak ditakar atau ditimbang, tidak berlaku hukum riba padanya. Begitu pula segala sesuatu yang dimakan dan diminum namun tidak ditimbang atau ditakar, maka tidak berlaku hukum riba padanya.

👍Yang rajih –wallahu a’lam– adalah pendapat Azh-Zhahiriyyah dan yang sepaham dengan mereka yaitu bahwa tidak ada qiyas dalam hal ini, dengan argumentasi sebagai berikut:

🔹1. Hadits-hadits yang tersebut dalam masalah ini, yang menyebutkan hanya enam jenis barang saja.
🔹2. Kembali kepada hukum asal. Hukum asal jual beli adalah halal kecuali ada dalil yang mengharamkannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَأَحَلَّ اللهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا
“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (Al-Baqarah: 275)
Sementara yang dikecualikan dalam hadits hanya enam barang saja.
🔹3. ‘Illat yang disebutkan oleh jumhur tidak disebutkan secara nash dalam sebuah dalil. ‘Illat-’illat tersebut hanyalah hasil istinbath melalui cara ijtihad. Oleh sebab itulah, mereka sendiri berbeda pendapat dalam menentukan batasan-batasannya.
وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللهِ لَوَجَدُوا فِيْهِ اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا
“Kalau kiranya bukan dari sisi Allah tentulah mereka mendapati pertentangan yang banyak di dalamnya.” (An-Nisa`: 82)

✏Untuk itulah kita tetap berpegang dan merujuk kepada dzahir hadits. Wallahul muwaffiq.
✍Adapun mereka yang beralasan dengan lafadz كَيْلاً بِكَيْلٍ (takaran dengan takaran) dan (timbangan dengan timbangan) yang tersebut dalam sebagian riwayat, maka jawabannya adalah bahwa hadits tersebut dibawa pada pengertian yang ditimbang adalah emas dan perak, bukan barang yang lain, dalam rangka mengompromikan dalil-dalil yang ada.

👉Atau dengan bahasa lain, yang dimaksud dengan lafadz-lafadz di atas adalah kesamaan pada sisi timbangan pada barang-barang yang terkena hukum riba yang tersebut dalam hadits-hadits lain. Wallahu a’lam.

✏Adapun pengertian sha’ atau takaran atau hitungan (bijian) pada sebagian riwayat, maka dijawab oleh Ash-Shan’ani dan Asy-Syaukani, yang kesimpulannya adalah bahwa penyebutan hal-hal di atas hanyalah untuk menunjukkan kesamaan dari sisi takaran atau timbangan pada barang-barang yang terkena hukum riba yang disebut dalam hadits-hadits lain. Wallahu a’lam.

🔰Adapun masalah muzabanah1 yang dijadikan dalil oleh jumhur, maka jawabannya adalah sebagai berikut:
🔹1. Asy-Syaikh Muqbil rahimahullahu ditanya tentang masalah ini, beliau menjawab: “Tidak masalah kalau anggur termasuk barang yang terkena riba.”
🔹2. Jawaban Ibnu Rusyd rahimahullah: “Muzabanah masuk dalam bab riba dari satu sisi dan masuk dalam bab gharar dari sisi yang lain. Pada barang-barang yang terkena riba maka masuk pada bab riba dan gharar sekaligus. Namun pada barang-barang yang tidak terkena riba maka dia masuk pada sisi gharar saja. Wallahul musta’an.”

💎Kedua: Emas dan perak
✍Para ulama berbeda pendapat tentang ‘illat (sebab) emas dan perak dimasukkan sebagai barang riba.

🔹1. Pendapat Azh-Zhahiriyyah dan yang sepaham dengan mereka, berpendapat bahwa perkaranya adalah ta’abuddi tauqifi, yakni demikianlah yang disebut dalam hadits, ‘illat-nya adalah bahwa dia itu emas dan perak.
Atas dasar ini, maka riba berlaku pada emas dan perak secara mutlak, baik itu dijadikan sebagai alat bayar (tsaman) untuk barang lain maupun tidak. Pendapat ini dipegangi oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullahu dalam sebagian karyanya.

🔹2. Pendapat Al-Hanafiyah dan yang masyhur dari madzhab Hanabilah, bahwa ‘illat-nya adalah karena emas dan perak termasuk barang yang ditimbang. Sehingga setiap barang yang ditimbang seperti kuningan, platina, dan yang semisalnya termasuk barang yang terkena riba, yaitu diqiyaskan dengan emas dan perak.
Namun pendapat ini terbantah dengan kenyataan adanya ijma’ ulama yang membolehkan adanya sistem salam2 pada barang-barang yang ditimbang. Seandainya setiap barang yang ditimbang terkena riba, niscaya tidak diperbolehkan sistem salam padanya.

🔹3. Pendapat Malik, Asy-Syafi’i, dan satu riwayat dari Ahmad, bahwa ‘illat-nya adalah tsamaniyyah (sebagai alat bayar) untuk barang-barang lainnya. Namun menurut mereka, ‘illat ini khusus pada emas dan perak saja, tidak masuk pada barang yang lainnya.
👍Yang rajih, wallahu a’lam, adalah pendapat pertama dan tidak bertentangan dengan pendapat ketiga. Sebab, yang ketiga termasuk pada pendapat pertama, wallahu a’lam. Dalilnya adalah hadits Fudhalah bin Ubaid radhiyallahu ‘anhu tentang jual beli kalung emas. Wallahu a’lam.
💵Mata Uang Kertas

🕹Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini: apakah mata uang kertas sekarang yang dijadikan alat bayar resmi terkena riba fadhl dan riba nasi`ah?

👉Pendapat yang rajih insya Allah adalah bahwa mata uang kertas adalah sesuatu yang berdiri sendiri sebagai naqd seperti emas dan perak. Sehingga mata uang kertas itu berjenis-jenis, sesuai dengan perbedaan jenis pihak yang mengeluarkannya.

👍Ini adalah pendapat Malik, Asy-Syafi’i, satu riwayat dari Ahmad, dan yang dipilih oleh Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, mayoritas Ha`iah Kibarul Ulama. Dan ini yang kebanyakan dipilih oleh seminar-seminar fiqih internasional semacam Rabithah ‘Alam Islami, dikuatkan oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi. Dan inilah fatwa ulama kontemporer.

🔑Mereka mengatakan bahwa mata uang kertas disamakan dengan emas dan perak karena hampir mirip (serupa) dengan ‘illat tsamaniyyah (sebagai alat bayar) yang ada pada emas dan perak.

🔄Mata uang kertas sekarang berfungsi sebagai alat bayar untuk barang-barang lain, sebagai harta benda, transaksi jual beli, pembayaran hutang piutang dan perkara-perkara yang dengan dasar itu riba diharamkan pada emas dan perak.
Atas dasar pendapat di atas, maka ada beberapa hukum syar’i yang perlu diperhatikan berkaitan dengan masalah ini.

📜Disebutkan dalam Fatawa Al-Lajnah Ad-Da`imah (13/442-444) diketuai Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin Baz, anggota Asy-Syaikh Abdurrazaq ‘Afifi, Asy-Syaikh Abdullah Al-Ghudayyan, Asy-Syaikh Abdullah bin Qu’ud, sebagai berikut:

🔹1. Terjadi dua jenis riba (fadhl dan nasi`ah) pada mata uang kertas sebagaimana yang terjadi pada emas dan perak.

🔹2. Tidak boleh menjual satu jenis mata uang dengan jenis yang sama atau dengan jenis mata uang yang lain secara nasi`ah (tempo) secara mutlak. Misal, tidak boleh menjual 1 dolar dengan 5 real Saudi secara nasi`ah (tempo).

🔹3. Tidak boleh menjual satu jenis mata uang dengan jenis yang sama secara fadhl (selisih nominal), baik secara tempo maupun serah terima di tempat. Misalnya, tidak boleh menjual Rp. 1000 dengan Rp. 1.100.

🔹4. Dibolehkan menjual satu jenis mata uang dengan jenis mata uang yang berbeda secara mutlak, dengan syarat serah terima di tempat. Misal, menjual 1 dolar dengan Rp. 10.000.

🔹5. Wajib mengeluarkan zakatnya bila mencapai nishab dan satu haul. Nishabnya adalah nishab perak.

🔹6. Boleh dijadikan modal dalam syirkah atau sistem salam.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Catatan kaki:
▪1 Muzabanah yaitu membeli burr yang masih di pohonnya dengan burr yang sudah dipanen, atau membeli anggur yang masih di pohonnya dengan zabib (anggur kering/ kismis). (ed)
▪2 Sistem salam: seseorang menyerahkan uang pembayaran di muka dalam majelis akad untuk membeli suatu barang yang diketahui sifatnya, tidak ada unsur gharar padanya, dengan jumlah yang diketahui, takaran/timbangan yang diketahui, dan waktu penyerahan yang diketahui.

Wallahu ta'ala a'lam bish-showab
📈Diposting ulang oleh Goresan  Makkah

- Forum dakwah salafiyyah Boyolali

Selengkapnya