BAHAYA MENGIKUTI HAWA NAFSU DALAM URUSAN DIIN

🎙Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

“Dan mengikuti hawa nafsu dalam perkara-perkara keagamaan lebih besar (kejelekannya) dari mengikuti hawa nafsu dalam urusan syahwat.

Sebab jenis pertama adalah keadaannya orang-orang kafir dari ahlul kitab dan orang-orang musyrik.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

فَإِن لَّمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءهُمْ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ ﴿٥٠﴾

Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. Q.S. Al-Qashash: 50

📖 Al-Amr bil Ma'ruf wan Nahy 'anil Munkar, Ibnu Taimiyah, hal. 17.

Alih bahasa: al Ustadz Abu Yahya al Maidany