Tiga Jenis Kandungan Hati

🎙Al-Imam Ibnul Qayyim –semoga Allah merahmatinya – berkata:

"Hati itu ada tiga:

▪Hati yang kosong dari iman dan segala kebaikan.
Itulah hati yang gelap yang syaithan benar-benar telah beristirahat dari melontarkan waswas kepadanya.

🔥Sebab, ia(syaithan) telah menjadikannya rumah dan negerinya, ia menghukumi di dalamnya sesuai apa yang ia inginkan, dan ia telah menguasainya di puncak penguasaan.

▪Hati yang kedua: Hati yang telah bersinar dengan cahaya iman, menyalakan lentera-lentera iman di dalamnya.

✍🏻 NAMUN, ada kegelapan syahwat dan hembusan-hembusan hawa nafsu padanya.

✍🏻 Maka, syaithan datang dan pergi di sana, mencoba dan tamak(untuk menguasainya).

⚔ Sehingga, peperangan di situ silih berganti, menang dan kalah.

Dan keadaan jenis ini berbeda-beda dalam sedikit dan banyaknya(kekalahan dan kemenangan).

▫Diantara mereka ada yang waktu kemenangan atas musuhnya (syaithan) lebih banyak.
▫Dan ada yang waktu kemenangan musuhnya atasnya lebih banyak.
▪Adapula yang kadang ini dan kadang itu(seimbang).

▪Hati yang ketiga: Hati yang dipenuhi iman, benar-benar telah bersinar dengan cahaya iman, terlepas syahwat darinya, dan tercabut kegelapan-kegelapan tersebut.

💡Maka, cahaya di hatinya telah terbit bersinar. Dengan sebab terbitnya itu, ia menyala. Seandainya rasa waswas mendekatinya, ia pasti terbakar dengannya.

👉🏻 Sehingga, ia laksana langit yang dijaga dengan bintang-bintang.

Jika syaithan mendekatinya(untuk mencuri berita dari langit) dilemparkan bintang itu kepadanya, hingga ia terbakar.

✍🏻Padahal langit itu tidak lebih terhormat dari seorang mukmin. Penjagaan Allah kepada orang mukmin lebih sempurna daripada penjagaan langit.

☄ Langit tempat peribadahan para malaikat, tempat menetapnya wahyu, terdapat cahaya ketaatan di dalamnya.

💎 Adapun hati seorang mukmin tempat menetapnya tauhid, rasa cinta, ma’rifah(pengenalan kepada Allah), dan iman. Di dalamnya terdapat cahaya dari itu semua.

☝🏻Sehingga, ia lebih berhak untuk dijaga dan dilindungi dari tipu daya musuh.

Tidak akan mampu dicapai(syaithan) hati yang demikian itu kecuali dengan tipu daya, kelengahan, dan menyambarnya(saat lalai)."

📖 Al-Waabilush Shayyib, Ibnul Qayyim, hal. 58 – 59.

Alih bahasa: al Ustadz Abu Yahya al Maidany