TAFSIR KALIMAT TAUHID

Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah berkata:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

الْحَمْدُ للّه و الصلاة و السلام على رسول الله و على آله و أصحابه, و بعد:

☝🏻Kalimat laa ilaaha illallah adalah kalimat yang agung, yang ringan di lisan dan berat di timbangan.
👉🏻Sebab, ia merupakan kandungan Islam yang hakiki.

❗Namun kalimat ini tidak sekedar lafal saja. Bahkan ia memiliki makna dan konsekuensi. Ia memiliki rukun-rukun dan syarat-syarat yang wajib untuk kita mengetahuinya.

✍🏻Seandainya tujuan darinya semata-mata mengucapkan, maka seluruh yang mengatakannya telah menjadi muslim. Karena sesungguhnya mudah untuk seseorang mengucapkan “laa ilaaha illallah” dan ia bisa menjadi muslim walau tidak beramal sedikitpun.

Kalimat ini adalah kalimat yang agung namun memiliki makna, konsekuensi, rukun-rukun dan syarat-syarat yang harus diterapkan.

☝🏻Oleh karenanya, kalimat itu tidak bermanfaat kecuali bersama adanya hal-hal tersebut.

Dan kalimat ini memiliki nama-nama diantaranya:

Kalimat Ikhlash (pemurnian) sebab ia meniadakan kesyirikan kepada Allah dan menetapkan peribadahan hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

👉🏻Karena itu, ia dinamakan kalimat Ikhlash yaitu memurnikan tauhid dan mengikhlaskan ibadah serta menjauhi kesyirikan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

▪Dan dinamakan juga sebagai Kalimat Takwa, sebagaimana Allah berfirman:

إِذْ جَعَلَ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي قُلُوبِهِمُ الْحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ فَأَنزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَى رَسُولِهِ وَعَلَىالْمُؤْمِنِينَ

وَأَلْزَمَهُمْ كَلِمَةَ التَّقْوَى وَكَانُوا أَحَقَّ بِهَا وَأَهْلَهَا وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيماً ﴿٢٦﴾

Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyah lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mukmin dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat takwa dan adalah mereka paling berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Q.S. Al-Fath: 26.

Dan Kalimat Takwa yang dimaksud dalam ayat adalah laa ilaaha illallah, karena ia menjaga orang yang mengucapkannya dengan ikhlash kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dari neraka. Juga, karena kalimat itu menuntut amalan-amalan kebaikan. Sebab takwa itu adalah amalan-amalan kebaikan dan ketaatan.

▪Dan termasuk namanya juga adalah Al-‘Urwah Al-Wutsqa/Tali yang Kokoh sebagaimana firman Allah Ta’ala:

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَبِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (256)

Tidak ada paksaan dalam ad-diin, sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang kufur kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada tali yang kokoh yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Q.S. Al-Baqarah: 256.

Kufur kepada Thaghut dan beriman kepada Allah inilah makna laa ilaaha illallah.

Kufur kepada Thaghut ini makna la ilaaha (tiada sesembahan yang hak) dan beriman kepada Allah ini makna illallah (kecuali Allah semata). Maka, makna kufur kepada thaghut dan beriman kepada Allah adalah konsekuensi dari laa ilaaha illallah. Dengan sebab itu, dinamakan (kalimat tauhid) tali yang kokoh.

▪Dan termasuk namanya juga, sebagaimana disebutkan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdulwahahhab : Pemisah antara Kekufuran dan Islam.

Barangsiapa mengatakannya, mengetahui maknanya dan mengamalkan konsekuensi ucapannya itu, maka ia telah menjadi seorang muslim.

Dan barangsiapa yang enggan untuk mengucapkannya ATAU telah mengatakannya tetapi tidak mengetahui maknanya ATAU mengucapkannya namun tidak melakukan konsekuensinya maka ia belum menjadi seorang muslim, sampai ia mengetahui maknanya dan mengamalkan konsekuensinya secara lahir dan batin.

Inilah nama-nama laa ilaaha illallah: kalimat Ikhlash, kalimat Takwa, Al-‘Urwah Al-Wutsqa, kalimat pemisah antara kekufuran dan keislaman.

Hal ini (penting diketahui) sebab kebanyakan dari manusia tidak mementingkan konsekuensi dari kalimat ini bersamaan mereka banyak mengucapkannya dan berdzikir kepada Allah dengannya seperti kalangan sufi. Mereka mengucapkannya di pagi dan sore hari ribuan kali namun mereka juga berdoa kepada selain Allah.

Dengan demikian, kalimat itu tidak memberikan manfaat kepada mereka sedikitpun karena mereka tidak mengamalkan konsekuensinya. Mereka mengucapkannya dan membacanya di wirid mereka dan banyak mengulanginya namun mereka berdoa meminta kepada yang telah mati dan beristighatsah dengan orang-orang yang telah dikubur. Mereka menaati syaikh-syaikh thariqah yang mensyariatkan kepada mereka bentuk-bentuk peribadahan yang tidak Allah syariatkan dan tidak pula Rasul-Nya.

Mereka tidak mempelajari syariat dari Rasulullah shalallahu‘alaihi wasallam, tidak lain mereka hanya belajar dari syaikh-syaikh mereka tersebut. Mereka itu banyak mengucapkan _laa ilaaha illallah_ pagi dan sore hari sedangkan ucapan mereka itu tidak memberikan kecukupan dan faedah kepada mereka sedikitpun.

Sebagian dari kalangan shufiyah ada yang mengucapkannya dengan tidak sempurna dan mereka menyangka bahwa mereka telah menjadi orang yang paling khusus dari orang-orang yang khusus.

Mereka tidak mengatakan laa ilaaha illallah bahkan hanya mengucapkan “Allah, Allah”. Inilah dzikir mereka yaitu mengulang-ulang kalimat: “Allah, Allah, Allah” bersamaan wajib untuk mengucapkannya secara sempurna. Adapun "Allah, Allah" maka ini hanya sekedar nama yang tidak berfaedah (tidak mengandung pujian)apapun.

Dan sebagian mereka tidak mengucapkan lafzhul jalaaah (Allah) bahkan hanya mengucapkan dengan kalimat ganti: huwa huwa huwa (Dia Dia Dia). Ini tidak bermakna apapun karena ia bermain-main dengan kalimat ini.

Oleh sebab itu wajib untuk memperhatikan hal-hal ini, karena syaithan ketika mengetahui bahwa kalimat ini adalah kalimat Islam dan manusia menyukai untuk berdzikir dengannya, ia palingkan mereka darinya dengan tipu daya tersebut.

Dan ia berikan pada mereka rasa waswas. Ia katakan pada mereka: kalian ucapkanlah “Allah, Allah” atau katakanlah “Huwa huwa (Dia, Dia)”.

Dan sebagian dari mereka tidak mengucapkan dzikir dengan Allah tidak pula dengan huwa bahkan mengucapkan dengan hatinya saja(di dalam hati, pent.).

Ini seluruhnya adalah permainan dari syaithan. Oleh karenanya wajib untuk memperhatikannya.

Dan sebagian manusia dilalaikan syaithan dari ucapan laa ilaaha illallah sehingga ia tidak mengucapkannya kecuali sedikit sekali. Ia tidak berdzikir kepada Allah dengannya(kalimat laa ilaaha illallah) kecuali sedikit sekali dan tidak mengulang-ulangnya bersamaan dzikir itu berat dalam timbangan.

Sebagaimana disebutkan dalam Kitab Tauhid bahwa seandainya kalimat itu diletakkan di satu sisi timbangan kemudian diletakkan langit dan seisinya -selain Allah- dan diletakkan pula bumi dan seisinya di sisi timbangan yang lain maka timbangan itu mencondong kepada kalimat laa ilaaha illallah.

Oleh karenanya, kalimat laa ilaaha illallah itu lebih berat dari langit dan bumi serta kedua isinya. Ia adalah kalimat yang agung namun sedikit yang memperhatikan dan menyadarinya serta membiasakan lisannya untuk mengucapkan dan mengulang-ulangnya kecuali orang-orang yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan taufik.”

📖 Silsilatu Syarh Ar-Rasaail, Tafsiir Kalimatit Tauhid, Al-Fauzan, hal 129 – 133.

Alih bahasa: al Ustadz Abu Yahya al Maidany