TIGA MACAM KEBAHAGIAAN DALAM MENYAMBUT IEDUL FITHRI


🎙Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah berkata:

“Orang-orang bergembira dengan ‘Ied, dan mereka ada tiga macam:

YANG PERTAMA:

Ia bergembira dengan datangnya ‘Ied karena telah menunaikan bulan Ramadhan dengan puasa, shalat, qiyam(tarawih), dan tilawah Al-Qur’an.

☝🏻Sehingga ia pun bahagia bahwa ia telah menyempurnakannya dalam menaati Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan Allah jalla wa ‘alaa berfirman:

قُلْ بِفَضْلِ اللّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُواْ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ ﴿٥٨﴾

Katakanlah: "Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan". Q.S. Yunus: 58.

▫Dengan kurnia Allah : Islam.

▫dan rahmat-Nya : Al-Qur’an.

👉🏻Maka hendaknya berbahagialah kaum muslimin dengan dua nikmat ini dengan gembira ria dan terikat dengan ketaatan, itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.

YANG KEDUA:

Seorang yang bergembira dengan penghujung bulan Ramadhan sebab ia bisa makan, minum, dan berbuka. Hal ini sesuatu yang tidak mengapa. Ini adalah kegembiraan yang mubah.

Nabi –shalallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ حِينَ فْطِره وَفَرْحَةٌ حِينَ لْقَاء رَبَّهُ

Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan: gembira saat ia berbuka dan gembira kala bertemu Rabbnya. H.R. Muslim.

☝🏻Ia bahagia saat berbuka dengan apa yang Allah bolehkan untuknya -yang awalnya ia dilarang darinya di siang hari , sementara ia menyukai atau butuh kepadanya- maka saat dibolehkan hal itu untuknya ia pun bergembira dengan keutamaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut. Ia juga mengenali nikmat Allah atasnya melalui makanan dan minuman ini yang awalnya dilarang untuknya, dan ia butuh kepadanya lalu dibolehkan baginya.

✍🏻 Maka tidak diragukan bahwa ia senang dengan hal tersebut, yang itu kegembiraan dari tabiat yang normal dan ia adalah kebahagiaan yang mubah.

YANG KETIGA:

Seorang yang senang dengan berakhirnya bulan Ramadhan agar ia kembali kepada perkara-perkara maksiat, dosa, kejelekan, kelalaian, dan menelantarkan shalat.

Maka ia laksana orang yang terpenjara di bulan ini. Dan sungguh ia telah bebas darinya dengan berakhirnya. Sehingga ia pun kembali kepada kesukaan-kesukaannya yang haram dan hawa nafsunya yang bergelimang dosa.

Dan kegembiraan ini adalah tercela.

Allah jalla wa ‘alaa berfirman:

وَفَرِحُواْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فِي الآخِرَةِ إِلاَّ مَتَاعٌ ﴿٢٦﴾

Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan yang sedikit. Q.S. Ar-Ra’d: 26.

💦 Maka mereka ini bergembira hanya karena perut-perut mereka, laksana hewan-hewan ternak.

بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلاً ﴿٤٤﴾

bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu). Q.S. Al-Furqaan: 44.

❗Mereka bergembira untuk  syahwat perut, kemaluan, dan hawa nafsu mereka."

🌏 Petikan dari khutbah:
https://www.alfawzan.af.org.sa/ar/node/17876

Alih bahasa: al Ustadz Abu Yahya al Maidany